15 August 2011

Nge-Facebook dan Nge-Twitter:

Antara Berkat atau Kutuk


"Ngantuk ah... Tidur lagi...," demikian sebuah status facebook seorang rekan tertulis. Temanku yang lain menulis statusnya berbeda: "Aku merindukanmu... sayang kamu... selamanya..." Ada juga yang menulis, "aku bosan..."

Itulah status-status yang sering aku lihat di lembar-lembar web facebook. Kemudian timbul pikiran di benakku, "untuk apa semua itu ditulis di facebook?" Pertanyaan mendasar yang mungkin sering dilupakan oleh kebanyakan kita adalah, "untuk apa aku melakukan ini, untuk apa aku melakukan itu?" Apa motif terdasar kita dalam melakukan semuanya itu?

Mungkin Anda yang membaca "note" ini akan berujar, "ah gitu aja kog repot." Ya, sobat, memang jika kita ingin hidup kita lebih bermakna (meaningful), kita harus siap repot. Apalagi sebagai umat tebusan Kristus, o kita harus lebih siap lagi untuk repot. Kenapa demikian? Karena hidup kita bukan milik kita lagi, sejak kita ditebus oleh-Nya: "Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku."

Mengikut Kristus bukan sekadar mempercayai ajaran atau doktrin tertentu. Mengikut Kristus sejatinya adalah memikirkan ("thinking") dan mempraktikkan ("practicing") apa yang Yesus pikirkan dan lakukan. Untuk itu, komitmen kita untuk menekuni Alkitab sebagai satu-satunya sumber hikmat Kristus tentu dibutuhkan di sini. Jadi, "sekadar" menulis status di facebook atau "nge-tweet" di twitter pun harus kita pikirkan dengan serius, apakah status tersebut sudah selaras dengan apa yang Yesus Kristus pikirkan dan lakukan. Sekali lagi pertanyaannya bagi diri kita adalah, "apa motif dan tujuan aku menulis sebuah status?" Rasul Paulus pernah mengajar dalam suratnya: "Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah" (1Kor. 10:31).

Sobat, facebook atau twitter adalah media jejaring sosial yang luar biasa dasyat pengaruhnya bagi kehidupan generasi muda saat ini. Survey terakhir yang pernah dilakukan, generasi muda Indonesia adalah pengguna kedua terbanyak facebook di seluruh dunia setelah Amerika Serikat. Jejaring sosial ini akan menjadi "berkat", sekaligus menjadi "kutuk" di sisi yang lain. Facebook atau twitter akan menjadi "berkat" jika kita berpikir dan menggunakannya di dalam perspektif atau hikmat Kristus. Facebook atau twitter akan menjadi sarana yang efektif untuk kita menghibur rekan kita yang susah, mendorong dan menguatkan rekan kita yang putus asa, atau bahkan menyatakan kebenaran firman dan pujian (Mazmur) bagi Tuhan, serta menyaksikan Injil-Nya melalui kehebatan facebook. Facebook mampu menjadi alat efektif bagi kita untuk bermisi bagi Kerajaan dan kemuliaan Allah. Namun di sisi yang lain, facebook atau twitter akan menjadi "kutuk" jika kita sembrono menggunakannya. Bukan semata-mata jika kita mengangkat materi-materi yang negatif seperti umpatan dan ungkapan permusuhan atau kebencian melalui facebook atau twitter, tetapi bahkan jika kita mengangkat materi-materi yang tanpa makna seperti status-status yang saya kisahkan di atas melalui facebook atau twitter, maka kita sesungguhnya tidak pernah belajar menjadi murid Kristus sejati yang menyatakan terang dan berkat bagi sesama kita.

Sobat, mari kita hidup bertanggung jawab sebagai murid-murid Kristus di zaman ini. Gunakan facebook atau twitter untuk memberkati, bukan untuk "ego-centrist" diri sendiri, dan bukan untuk "narsisme" diri kita. Biarlah terang hidup Kristus menjadi nyata di dalam status-status facebook dan tweeting kita... Selamat menjadi berkat dan garam dunia.

04 August 2011

10 Tahun Mengasihimu
Serasa baru kemarin, kita merencanakan untuk menjalani sisa hari kita bersama. Serasa baru kemarin pagi kamu membangunkan aku di kamar kontrakan kita. Serasa baru dua pagi yang lalu kamu meminta tolong aku untuk menimba air di sumur rumah kontrakan mungil kita. Seminggu bersama, sebulan berpisah. Itulah hari-hari kita di tahun awal perjalanan kita bersama. Ah, sekarang, 10 tahun yang lalu, aku masih bisa mengingat debar jantungku menanti esok kita mengikat janji suci di hadapan Tuhan dan jemaat-Nya.
Kini, bukan lagi kamar kecil yang menjadi saksi komitmen kita. Bukan lagi kontrakan mungil, dengan hiruk pikuk motor yang lewat di balik temboknya yang melengkapi hari-hari kita. Bukan lagi air sumur yang bau yang menjadi minuman kita. Bahkan kita tidak perlu lagi menempuh jarak ratusan kilometer untuk merayakan kebersamaan kita.
Sekarang... ada helaan nafasmu di setiap kejap kelopak mata terbuka. Ada rumah, yang meski tak megah, tapi cukup luang untuk bermain anak-anak kita. Ada air galon, yang meski bukan dari mereka dagang wahid, tapi cukuplah untuk menggantikan air sumur pahit. Semua tersedia sebagai tanda bahwa Tuhan terus merenda kisah kita... membingkainya dengan untaian Anugerah-Nya.
Sekarang ada Theodicy Kristian Pratama, yang bahkan ukuran tubuhmu sudah semakin terlampaui. Ada Jonathan Krisna Baskara, yang terus memanggilmu "Mama" dan selalu setia mengantarkanmu belanja.
Ah... 10 tahun sudah aku mengenalmu, Kristin Ambarwati. Meski takkan tuntas aku mengenalmu, namun aku ingin semakin mengasihimu. Karena kehadiranmu adalah bagian dari kisah kasih agung Sang Pemberi Hidupku. Terima kasih istriku. Terima kasih Tuhan, untuk kehadiran penolong dalam hidupku.
(Jember, 4 Agustus 2011; mengenang 10 tahun H-1 pernikahanku).

23 December 2010

Sejarah Lagu "Malam Kudus"


Stille Nacht, heilige Nacht,
Alles schläft; einsam wacht
Nur das traute hochheilige Paar.
Holder Knabe im lockigen Haar,
Schlaf in himmlischer Ruh!
Schlaf in himmlischer Ruh!

(lagu "Malam Kudus" dalam Bahasa Jerman)

...

Kita tentu akan merasa ada sesuatu yang kurang kalau ada perayaan Natal tanpa menyanyikan "Malam Kudus," bukan?

Terjemahan-terjemahan lagu Natal kesayangan itu sedikit berbeda satu dari yang lainnya, namun semuanya hampir serupa. Hal itu berlaku juga dalam bahasa- bahasa asing. Lagu itu begitu sederhana, sehingga tidak perlu ada banyak selisih pendapat atau perbedaan kata dalam menterjemahkannya.

"Malam Kudus" sungguh merupakan lagu pilihan, karena dinyanyikan dan dikasihi di seluruh dunia. Bahkan para musikus ternama rela memasukkannya pada acara konser dan piringan hitam mereka.

Anehnya, nyanyian yang terkenal di seluruh dunia itu sesungguhnya berasal dari sebuah desa kecil di daerah pegunungan negeri Austria. Inilah ceritanya....

Orgel yang Rusak

Orgel di gereja desa Oberndorf sedang rusak. Tikus-tikus sudah mengunyah banyak bagian dalam dari orgel itu.

Seorang tukang orgel telah dipanggil dari tempat lain. Tetapi menjelang Hari Natal tahun 1818, orgel itu masih belum selesai diperbaiki. Sandiwara Natal terpaksa dipindahkan dari gedung gereja, karena bagian-bagian orgel yang sedang dibetulkan itu masih berserakan di lantai ruang kebaktian.

Tentu tidak ada seorang pun yang mau kehilangan kesempatan melihat sandiwara Natal. Pertunjukan itu akan dipentaskan oleh beberapa pemain kenamaan yang biasa mengadakan tour keliling. Drama Natal sudah menjadi tradisi di desa itu, sama seperti di desa-desa lainnya di negeri Austria.

Untunglah, seorang pemilik kapal yang kaya raya mempunyai rumah besar di desa itu. la mengundang para anggota gereja untuk menyaksikan sandiwara Natal itu di rumahnya.

Tentu saja Josef Mohr, pendeta pembantu dari gereja itu, diundang pula. Pada malam tanggal 23 Desember, ia turut menyaksikan pertunjukan di rumah orang kaya itu.

Sesudah drama Natal itu selesai, Pendeta Mohr tidak terus pulang. la mendaki sebuah bukit kecil yang berdekatan. Dari puncaknya ia memandang jauh ke bawah, dan melihat desa di lembah yang disinari cahaya bintang yang gemerlapan. Sungguh malam itu indah sekali ... malam yang kudus ... malam yang sunyi ....

Hadiah Natal yang Istimewa

Pendeta Mohr baru sampai ke rumah tengah malam. Tetapi ia belum juga siap tidur. Ia menyalakan lilin, lalu mulai menulis sebuah syair tentang apa yang telah dilihatnya dan dirasakannya pada malam itu.

Keesokan harinya pendeta muda itu pergi ke rumah temannya. Franz Gruber, yang juga masih muda, adalah kepala sekolah di desa Arnsdorf, yang terletak tiga kilometer jauhnya dari Oberndorf. la pun merangkap pemimpin musik di gereja yang dilayani oleh Josef Mohr.

Pendeta Mohr lalu memberikan sehelai kertas lipatan kepada kawannya. "Inilah hadiah Natal untukmu," katanya, "sebuah syair yang baru saja saya karang tadi malam."

"Terima kasih, pendeta!" balas Franz Gruber.

Setelah mereka berdua diam sejenak, lalu pendeta muda itu bertanya: "Mungkin engkau dapat membuat lagunya, ya?"

Franz Gruber senang atas saran itu. Segera ia mulai bekerja dengan syair hasil karya Josef Mohr.

Pada sore harinya, tukang orgel itu sudah cukup membersihkan ruang kebaktian sehingga gedung gereja dapat dipakai lagi. Tetapi orgel itu sendiri masih belum dapat digunakan.

Penduduk desa berkumpul untuk merayakan Malam Natal. Dengan keheranan mereka menerima pengumuman, bahwa termasuk pada acara malam itu ada sebuah lagu Natal yang baru.

Franz Gruber sudah membuat aransemen khusus dari lagu ciptaannya--untuk dua suara, diiringi oleh gitar dan koor. Mulailah dia memetik senar pada gitar yang tergantung di pundaknya dengan tali hijau. Lalu ia membawakan suara bas, sedangkan Josef Mohr menyanyikan suara tenor.

Paduan suara gereja bergabung dengan duet itu pada saat-saat yang telah ditentukan. Dan untuk pertama kalinya lagu "Malam Kudus" diperdengarkan.

Bagaimana Tersebar?

Tukang orgel turut hadir dalam kebaktian Malam Natal itu. Ia senang sekali mendengarkan lagu Natal yang baru. Mulailah dia bersenandung, mengingat not-not melodi itu dan mengulang-ulangi kata-katanya.

"Malam Kudus" masih tetap bergema dalam ingatannya pada saat ia selesai memperbaiki orgel di Oberndorf, lalu pulang.

Sekarang masuklah beberapa tokoh baru dalam ceritanya, yaitu: Strasser bersaudara. Keempat gadis Strasser itu adalah anak-anak seorang pembuat sarung tangan. Mereka berbakat luar biasa di bidang musik.

Sewaktu masih kecil, keempat gadis cilik itu suka menyanyi di pasar, sedangkan ayah mereka menjual sarung tangan buatannya. Banyak orang mulai memperhatikan mereka, dan bahkan memberi mereka uang alas nyanyiannya.

Demikian kecilnya permulaan karier keempat gadis Strasser itu, hanya sekedar menyanyi di pasar. Tetapi mereka cepat menjadi tenar. Mereka sempat berkeliling ke banyak kota. Yang terutama mereka tonjolkan ialah lagu-lagu rakyat dari tanah air mereka, yakni dari daerah pegunungan negeri Austria.

Tukang orgel tadi mampir ke rumah keempat Strasser bersaudara. Kepada mereka ia nyanyikan lagu Natal yang baru saja dipelajarinya dari kedua penciptanya di gereja desa itu.

Salah seorang penyanyi wanita itu menuliskan kata-kata dan not-not yang mereka dengarkan dari tukang orgel teman mereka. Dengan berbuat demikian mereka pun dapat menghafalkannya.

Keempat wanita itu senang menambahkan "Malam Kudus" pada acara mereka. Makin lama makin banyak orang yang mendengarnya, sehingga lagu Natal itu mulai dibawa ke negeri-negeri lain pula.

Pernah seorang pemimpin konser terkenal mengundang keempat kakak-beradik dari keluarga Strasser itu untuk menghadiri konsernya. Sebagai atraksi penutup acara yang tak diumumkan sebelumnya, ia pun memanggil keempat wanita itu untuk maju ke depan dan menyanyi. Antara lain, mereka menyanyikan "Malam Kudus," yang oleh mereka diberi judul "Lagu dari Surga."

Raja dan ratu daerah Saksen menghadiri konser itu. Mereka mengundang rombongan penyanyi Strasser itu untuk datang ke istana pada Malam Natal. Tentu saja di sana pun mereka membawakan lagu "Malam Kudus."

Rahasia Asal Usulnya

Lagu Natal yang indah itu umumnya dikenal hanya sebagai "lagu rakyat" saja. Tetapi sang raja ingin tahu siapakah pengarangnya. Pemimpin musik di istana, yaitu komponis besar Felix Mendelssohn (lihatlah pasal 14 dari JILID 3 dalam seri buku ini), juga tidak tahu tentang asal usul lagu Natal itu.

Sang raja mengirim seorang utusan khusus untuk menyelidiki rahasia itu. Utusannya hampir saja pulang dengan tangan kosong. Lalu secara kebetulan ia mendengar seekor burung piaraan yang sedang bersiul. Lagu siulannya tak lain ialah "Malam Kudus"!

Setelah utusan raja tahu bahwa burung itu dulu dibawa oleh seseorang dalam perjalanannya dari daerah pegunungan Austria, maka pergilah dia ke sana serta menyelidiki lebih jauh. Mula-mula ia menyangka bahwa barangkali ia akan menemukan lagu itu dalam naskah-naskah karangan Johann Michael Haydn, seorang komponis bangsa Austria yang terkenal. (Lihatlah pasal 6 dari JILID 3 dalam seri buku ini.) Tetapi sia-sia semua penelitiannya.

Akan tetapi usaha utusan raja itu telah menimbulkan rasa ingin tahu pada penduduk setempat. Seorang pemimpin koor anak-anak merasa bahwa salah seorang muridnya mungkin pernah melatih burung yang pandai mengidungkan "Malam Kudus" itu. Maka ia menyembunyikan diri sambil bersiul meniru suara burung tersebut.

Segera muncullah seorang anak laki-laki, mencari burung piaraannya yang sudah lama lolos. Ternyata anak itu bernama Felix Gruber. Dan lagu yang sudah termasyhur itu, yang dulu diajarkan kepada burung piaraannya, ditulis asli oleh ayahnya sendiri!

Demikianlah seorang bocah dan seekor burung turut mengambil peranan dalam menyatakan kepada dunia luar, siapakah sebenarnya yang mengarang "Lagu Natal dari Desa di Gunung" itu.

Tanda Pengenal Orang Kristen

Setelah satu abad lebih, "Malam Kudus" sesungguhnya menjadi milik bersama seluruh umat manusia. Bahkan lagu Natal itu pernah dipakai secara luar biasa, untuk menciptakan hubungan persahabatan antara orang-orang Kristen dari dua bangsa yang sangat berbeda bahasa dan latar belakangnya.

Pada waktu Natal tahun 1943, seluruh daerah Lautan Pasifika diliputi oleh Perang Dunia Kedua. Beberapa minggu setelah Hari Natal itu, sebuah pesawat terbang Amerika Serikat mengalami kerusakan yang hebat dalam peperangan, sehingga jatuh ke dalam samudra di dekat salah satu pulau Indonesia.

Kelima orang awak kapal itu, yang luka-luka semua, terapung-apung pada pecahan-pecahan kapalnya yang sudah tenggelam. Lalu nampak pada mereka beberapa perahu yang makin mendekat. Orang-orang yang asing bagi mereka mendayung dengan cepatnya dan menolong mereka masuk ke dalam perahu-perahu itu.

Penerbang-penerbang bangsa Amerika itu ragu-ragu dan curiga:

Apakah orang-orang ini masih di bawah kuasa Jepang, musuh mereka? Apakah orang-orang ini belum beradab, dan hanya menarik mereka dari laut untuk memperlakukan mereka secara kejam?

Segala macam kekuatiran terkilas pada pikiran mereka, karena mereka sama sekali tak dapat berbicara dalam bahasa para pendayung berkulit coklat itu. Sebaliknya, orang-orang tersebut sama sekali tak dapat berbicara dalam bahasa Inggris. Rupa-rupanya tiada jalan untuk mengetahui dengan pasti, apakah tentara angkatan udara itu telah jatuh ke dalam tangan kawan atau lawan.

Akhirnya, sesudah semua perahu itu mendarat di pantai, salah seorang penduduk pulau itu mulai menyanyikan "Malam Kudus." Kata-kata dalam bahasa Indonesia itu masih asing bagi para penerbang yang capai dan curiga. Tetapi lagunya segera mereka kenali. Dengan tersenyum tanda perasaan lega, turutlah mereka menyanyi dalam bahasa mereka sendiri. Insaflah mereka sekarang bahwa mereka sudah jatuh ke dalam tangan orang-orang Kristen sesamanya, yang akan melindungi dan merawat mereka.

Lagu Duniawi dan Surgawi

Bagaimana dengan sisa hidup kedua orang yang mula-mula menciptakan lagu "Malam Kudus"?

Josef Mohr hidup dari tahun 1792 sampai tahun 1848. Franz Gruber hidup dari tahun 1787 sampai tahun 1863. Kedua orang itu terus melayani Tuhan bertahun- tahun lamanya dengan berbagai-bagai cara. Namun sejauh pengetahuan orang, mereka tidak pernah menulis apa-apa lagi yang luar biasa. Nama-nama mereka pasti sudah dilupakan oleh dunia sekarang...kecuali satu kejadian, yaitu: Pada masa muda mereka pernah bekerja sama untuk menghasilkan sebuah lagu pilihan.

Gereja kecil di desa Oberndorf itu dilanda banjir pegunungan pada tahun 1899, sehingga hancur luluh. Sebuah gedung gereja yang baru sudah dibangun di sana. Di sebelah dalamnya ada pahatan dari marmer dan perunggu sebagai peringatan lagu "Malam Kudus."

Pahatan itu menggambarkan Pendeta Mohr, seakan-akan ia sedang bersandar di jendela, melihat keluar dari rumah Tuhan di surga. Tangannya ditaruh di telinga. Ia tersenyum sambil mendengar suara anak-anak di bumi yang sedang menyanyikan lagu Natal karangannya. Di belakangnya berdiri Franz Gruber, yang juga tersenyum sambil memetik gitarnya.

Sungguh tepat sekali kiasan dalam pahatan itu! Seolah-olah seisi dunia, juga seisi surga, turut menyanyikan "Lagu Natal dari Desa di Gunung."


dari: http://gema.sabda.org/sejarah_lagu_malam_kudus

Natal yang Mahal


Berapa budget Natal yang kita habiskan di Natal tahun ini? Untuk keperluan kita pribadi? Untuk anggaran perayaan di gereja? Untuk keluarga dan sanak saudara? Jutaan? Puluhan juta? Atau ratusan juta? Pernah saya berpikir, apakah motivasi di balik budget Natal yang besar itu? Apakah untuk kemuliaan Allah? Atau untuk sekadar "prestige" komunal dan "prestige" pribadi?

Tanpa bermaksud menghakimi, kita perlu kembali kepada Natal pertama. Mari kita baca Lukas 2:1-20. Tidak sedikit pun tergambar kesan kemewahan Natal pada saat kelahiran Sang Bayi Kristus. Yang ada alalah kesan kesederhanaan, bahkan kalau jujur kita nilai, Natal pertama adalah Natal yang penuh kemelaratan. "Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan."

Dan itulah makna Natal yang sesungguhnya; Natal adalah inkarnasi - Allah yang Mahatinggi dan Mahakuasa masuk dalam daging manusia dalam kemelaratannya...

Seorang rekan saya di gereja berujar, "Tapi khan Natal adalah perayaan ulang tahun bagi Yesus yang adalah Raja di atas segala raja? Jadi harus special dong..." Saya setuju dengan pendapat itu. Namun pertanyaannya adalah, "apakah special berarti mahal dan mewah?" Justru karena terlalu seringnya kita merayakan Natal dalam kemewahan dan kemahalan, kepekaan kita akan makna "inkarnasi" yang berarti kemuliaan menjadi kesederhanaan (baca: kemelaratan) menjadi tumpul. Natal yang harus dimaknai sebagai hidup merendah dan mau "berada di bawah" (orang Jawa bilang: "andap asor") telah berubah menjadi Natal yang angkuh, penuh glamour, dan tidak ada semangat inkarnasi sama sekali. Kalau ada budget Natal untuk orang-oran melarat, pasti jumlahnya tidak sebanding dengan "make-up" gereja, makan-minum, dan segala fashion kita. Kemewahan dan kemahalan yang melingkupi kita di hari-hari peringatan Natal mungkin telah membentuk kita menjadi hati yang dingin melihat banyak orang di sekeliling kita yang menderita.

Jadi, kita harus kembali merenung, berapa budget Natal kita tahun ini? Sudahkah kita meneladani makna "inkarnasi" Kristus yang rela menjadi yang "terbawah" dalam ketaatan-Nya (bandingkan Filipi 2:5-8). Benar, marilah "menaruh pikiran Kristus" dalam pikiran kita.

Let the incarnation spirit fill our heart in celebrating Christmas this year.

Merry Christmas and Happy New Year.

25 October 2010

Merindukan Hikmat Tuhan


"Berilah sekarang kepadaku hikmat dan pengertian,…" (ayat 10). Hikmat dan pengertian lah yang diminta Salomo, bukan harta bukan kemakmuran, ataupun kejayaan. Namun hikmatlah yang paling diperlukannya dalam memimpin Israel.

Hikmat dan pengertian bersumber dari sikap hidup yang takut akan Tuhan (Amsal 9:10 - Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.)

Namun kehidupan penuh hikmat adalah kehidupan yang penuh determinasi. Seorang yang hidup di dalam hikmat dan pengertian setiap hari adalah seorang yang mampu berdampak positif bagi orang lain. Keputusan-keputusan seorang yang penuh hikmat adalah keputusan yang digerakkan oleh pengertian akan pimpinan Tuhan. Tidak ada kata "salah langkah" dalam kamus kehidupan orang yang berhikmat dan berpengertian.

Dan Sang Kristus juga mengajarkan: "Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa" (Yoh. 15:5).

Rumus yang sangat sederhana: hidup takut dan berada di dalam Dia = hidup penuh hikmat dan pengertian.

23 October 2010


Penebusan Pikiran

"Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;" Mzm. 139:23.

"Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu."Filipi 4:8


Dampak penebusan Kristus atas hidup orang percaya bersifat utuh dan menyeluruh. Seorang yang telah mengalami anugerah di dalam Kristus adalah seorang yang mengalami penebusan di dalam setiap aspek hidupnya. Pikiran yang telah ditebus (redeemed mind) adalah ciri orang yang telah menjadikan Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.

Filipi 4:8 sering disebut orang sebagai Pemikiran Positif ala Kristen. Setelah lahir baru kita masuk ke dalam proses pengudusan yang berjalan seumur hidup. Pengudusan yang dikerjakan Tuhan mencakup seluruh aspek dalam hidup kita, salah satu yang sangat penting yaitu aspek pikiran.

Dalam dosa manusia suka memikirkan apa yang jahat dan tidak benar di mata Tuhan. Paulus mengajak jemaat di Filipi belajar mengontrol atau melatih pikiran untuk hal-hal yang baik. Banyak hal yang kita lakukan dipicu dan dikendalikan oleh apa yang kita pikirkan. Misalnya jika kita berpikir jahat tentang seseorang maka kita akan menyatakannya pula dalam relasi dan sikap kita terhadap dia. Ketika kita berpikir kotor kita didorong untuk melakukan hal yang kotor pula. Sebaliknya, apabila kita memikirkan apa yang benar, yang mulia, yang adil, suci dan seterusnya (ayat 8), kita juga akan melakukan hal-hal benar, mulia, adil, suci. Paulus sendiri mempraktikkan prinsip ini, sehingga ia dapat hidup tanpa didikte oleh keadaan (ayat 10-13).

Pikiran tidak memiliki kekuatan otonom untuk menentukan apa yang hendak dipikirkannya. Pikiran membutuhkan anugerah Tuhan agar dapat berfungsi dengan benar. Pengudusan pikiran adalah hal yang sangat penting. Dengan anugerah Tuhan kita melatih pikiran kita dengan jalan merenungkan firman Tuhan (ayat 8). Hal-hal dalam Fil. 4:8 ini meliputi berbagai macam modus kehidupan. "Yang benar" mencakup aspek rasionalitas; "yang mulia" aspek ibadah; "yang adil" aspek hukum; "kesucian atau kemurnian" mencakup aspek kesalehan; "yang manis" aspek estetika; "sedap didengar" aspek informasi yang kita konsumsi; "kebajikan" berkaitan dengan moral dan etika; "patut dipuji" mencakup konsep nilai. Kekristenan mengajarkan keutuhan dan bukan keterkepingan. Jika hati kita telah dikuduskan oleh Kristus maka seluruh aspek hidup kita pun harus dikuduskan.

Bagaimana kebiasaan berpikirku? Sudahkah kuasa penebusan Kristus memperbaharui setiap hari melalui Firman-Nya? Pikirkan firman-Nya, renungkan kebenaran-Nya...