Showing posts with label Kenangan. Show all posts
Showing posts with label Kenangan. Show all posts

19 April 2007

Dunia Ironi


Memasuki bumi Jayapura, melewati berbagai tikungan berkelok, aku melihat ironi yang nyata.
Bumi yang indah, tanah yang hijau, sebuah gambaran lukisan ilahi yang begitu cantik.
Seharusnya mereka dapat hidup dengan tersenyum.
Seharusnya anak-anak mereka dapat bercanda riang di dalam tawa yang penuh harapan.
Tanah yang hijau, laut yang jernih siap direngkuh sebagai sumber kehidupan yang penuh cita.
Namun sebuah ironi segera menyeruak dari harap yang tergantung.
Saudaraku yang di sana sedang dalam duka.
Tanah tempat mereka menggantungkan harap untuk mengisi perut mereka telah tergadaikan. Mereka yang seharusnya menjadi tuan atas tanah mereka, kini siap melihat tangan sang tuan teracung kepada mereka.
Kegelapan akan siap mengancam dan menerkam laksana beruang yang lapar.
Mereka terlena, mereka terlelap...
Tanpa sadar bayang-bayang kelam virus mematikan siap menjadikan mereka pesakitan.
Kehidupan pesta kemabukan siap menelan mereka dalam kekosongan hidup.
Sebuah ironi segera terpampang:
Bumi yang cantik, namun saudaraku hidup dalam tangis.
Aku berdoa untukmu, sobat.
Aku menangis untukmu, saudaraku...
Kiranya Tuhan segera membangunkan tidur lelapmu. Berjuanglah, kawan...!
(Catatan Papua, 29 Maret-11 April 2007)

01 March 2007

Indahnya Anugerah Kebersamaan itu...
Minggu, 14 Januari 2007 adalah bersatunya keluarga yang lama hidup dalam "diaspora."
Rancangan Allah yang begitu indah membuat kami "terlongong" di dalam kekaguman...
Theo kecil sekarang telah melompat kegirangan di tengah pikuk taman kanak-kanak.
Sang mama telah begitu sibuk mempersiapkan bahan pengajarannya.
Dan aku terduduk dalam keterpanaan akan kasih-Nya yang tak berkesudahan...
25 Februari 2007; kami merayakan kebersamaan dalam syukur kami dengan cara menantang lampu kamera.
Kebersamaan itu begitu indah dan penuh sukacita...
Namun kebersamaan di dalam rengkuhan kasih Kristus melampaui segala nikmat yang pernah ada.
Ya Allah, aku ingin mempersembahkan keluarga yang kecil ini bagi keagungan nama-Mu.
"Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,
selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!"
Ratapan 3:22-23

11 November 2006

Selamat Jalan, Bang Roy...
(in memoriam Roy Simanjutak)

Selalu mengumbar senyuman manisnya; itulah kesan pertama yang aku tangkap dari seorang Roy Simanjutak; tidak pernah terlihat ja-im (alias jaga image), apalagi arogan. Aku mengenal entah berapa tahun yang lalu... Seingatku sudah sejak aku ngikut pelayanan mahasiswa di Jember. Jelas dia lebih senior dari aku (untuk itu aku panggil "Bang"), tapi kesan menggurui apalagi sok tahu tidak pernah terlepas dari bibirnya.
Cakep; istriku juga katakan itu... Secara fisik Bang Roy lumayan sedap dipandang... Singkat kata, pasaran tinggilah... Tapi beberapa waktu yang lalu aku sempat bertanya dengan sedikit bercanda, "Kog dari dulu nggak punya calon sih, Bang? Apa perlu aku carikan? Yang Batak atau apapun?" Seperti biasa dia cuman senyum...
Kemaren, aku bertanya sama Mas Jo, teman dan senior Staf Jember, "Kog sepatu Mas Jo kayak punya Bang Roy sih? O ya, Bang Roy kog gak pernah kelihatan main ke sini yan?" Memang sejak bulan lalu Bang Roy diterima kerja di Jember dengan tugas di Banyuwangi. Seperti biasa, masih demen jadi salesman. Mungkin hobi di jalanan kali ya?

Jumat, 10 November 2006 kemaren aku lagi asyik ikut Halal bi Halal di "Gang Kelinci" (jalan di sekitar rumahku). Tiba-tiba sms masuk dari Mas Jo yang lagi di Banyuwangi, "Yus, Bang Roy kecelakaan di Jember, meninggal. Jenasahnya malam ini langsung dibawa ke Jember dari RSU Jember... Beritahu teman-teman alumni."
Ah..., Tuhan, mengapa Kau panggil begitu cepat... Padahal dia belum juga merasakan cinta seorang istri... Padahal belum lama berselang Papa dan Mama Bang Roy Kau panggil dengan begitu cepat pula... Padahal Anet dan adiknya masih butuh figur sang abang... Padahal aku dan Mas Jo masih punya banyak rencana bersama Bang Roy... Padahal... ah... Tuhan...



Hanya satu yang menjadi penghiburan kami: "Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia" (1Tes. 4:13-14). Selamat jalan Bang Roy, selamat jalan Sobat...






(Sabtu, 11 November 2006, 11.47 a.m.)



12 September 2006


Menikah = Bercermin…?
(catatan minggu penuh pernikahan 8-10 Sept’ 06)


Seorang pakar pernah berkata, “Tujuan dari pernikahan dan keluarga adalah untuk menjadikan kita realistis.”
Wuiihh…, aku yakin kata-kata bijak ini bukan lahir dari sebuah lamunan semata. Aku sudah membuktikannya, prenzz… At least (binti paling tidak), selama lima tahun ini aku memang diajak untuk lebih realistis. Kalau boleh aku menerjemahkan kata-kata bijak-sana di atas dengan kata-kata “bijak-sini” ku:
“menikah itu sama dengan bercermin.”

Bagaimana tidak, dulu aku yakin banget, kalau tidur aku benar-benar seperti bayi dalam nina bobo bundanya: silent... alias “nyaris tak terdengar.” Eh, setelah aku bercermin kepada "cermin keluargaku," ternyata di saat tidur cukup banyak suara “yang tak tertafsirkan” keluar dari mulutku. Dan aku bahkan tidak bisa ber-pledoi, karena Theo kecilku mampu bersaksi atas dengkuran yang keluar dari bantal yang menutup wajahku.
Bagaimana tidak, aku dulu yakin banget dengan kebijakan dan hikmatku. Tapi setelah lima tahun bercermin kepada istriku, ternyata aku belum cukup dewasa untuk dikatakan bijak.
Ah… aku sebenarnya malu mengatakan gambaran wajah dalam cermin pernikahanku…

Namun, lebih daripada semua itu, bukankah sebuah pertobatan harus diawali dengan pengakuan dan kejujuran? Ketika kita bercermin dan melihat “wajah buruk” kita di dalam cermin, bukankah lebih baik kita mengakui dan menerimanya, daripada membelah cermin itu? Bahkan, mungkin itulah maksud Tuhan bagi kita ketika Ia memberikan kado “cermin pernikahan,” yaitu istri, anak atau keluarga kita. “Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu” (Kej. 2:25).
Bila buruk muka, janganlah cermin dibelah. Akuilah, realistis-lah, dan kemudian benahilah diri kita… Itu namanya pertobatan…
Terima kasih kepada Tuhan yang memberikan kado "cermin keluarga" buat kita yang "nekat" menerimanya...

(buat Mas Jo-Jeng Wenis, & Nana-Lia, selamat bercermin… selamat hidup di dalam realitas sejati…)

06 September 2006

Hari ini aku capek... pek...
Tapi entah kenapa ya, ada sukacita di sudut hati sana. Mungkin memang menceritakan Kabar Baik itu selalu membawa sukacita, entah untuk kita, entah untuk yang mendengarkannya. Meski sempat kepotong waktu sama Franko, tapi senang juga lihat dia antusias. Apalagi liat Aris yang ketawa-ketiwi waktu mendengar dan meresponi The Gospel. Doaku buat kalian, adik-adikku, agar Sang Ruh Penjaga Jiwa terus berkarya di dalam hatimu...

Di tengah sukacita jiwa, aku juga harus "menyempatkan" diri menangis buat hati yang sedang gundah dan kecewa. Percaya enggak, ini pelayanan konselingku yang pertama sejak "turun gunung," Jeck... Aku nggak nemu'in solusi buat si konseli sih. At least aku bisa berharap dan berdoa bagi Tuhan, agar esok bisa membuat "sang hati ini" bisa sedikit tersenyum. Kacian deh Jeck, jauh dari ortu dan sanak saudara. God, keep her in Your Gentle Hand...

Tapi ternyata ada juga yang bikin hati ini capek... Untung nggak sampe "makan hati"... (hi... hi... gak jadi minum teh botol Sosro deh...). Masak ada orang yang mau melayani tapi cari mudahnya saja... "Aku mau melayani, asal... Aku mau nyenagin Tuhan, asal gak susah-susah ya..." Ah, mungkin Tuhan akan mengatakan, "Gak janji deh..." Melayani Tuhan itu bukan sebuah pilihan mudah, Preen... Jangan cengeng dong... Capek deh aku dengan kalian...

Tuhan aku mau bobo' malam ini di dalam rengkuhan sayap-MU... Cape' aku...
Met bobo' Ma, met bobo' my dear Theo...

03 September 2006





My History is His-Story


Perjalanan hidupku bukanlah semata-mata garis linear yang bergerak tanpa suatu titik tujuan yang pasti. Yang sebenarnya, ada sebuah Tangan yang Kekal sedang merajut dan merenda hari-hariku sejak di dalam kandungan ibuku...

Rabu, 4 Desember 1974, aku lahir di dalam tenunan Sang Tangan yang Kokoh Kekal. Ayah dan Ibuku memberi nama aku Yusuf Deswanto. Entah nama "Yusuf" yang mana di dalam Alkitab yang ada di dalam benak mereka waktu itu. Yusuf yang dijual ke Mesir-kah, ataukah Yusuf papi dari Yesus Sang Kristus. Aku sendiri hingga kini lebih senang jika harapan orang tuaku adalah aku menjadi seperti Yusuf yang kemudian menjadi perdana menteri di Mesir. Satu joke yang sering aku ulang di dalam perkenalan adalah, "kalau Yusuf di Alkitab digoda oleh istri Potifar, tapi kalau Yusuf ini malah menggoda 'tante Potifar'." Tentu ini hanya sebuah canda yang terselip di dalamnya doaku, agar aku juga dapat hidup berintegritas seperti Yusuf yang menjadi alat Tuhan di dalam menyelamatkan suatu generasi tebusan-Nya.

Ayahku, Asmari (setelah menjadi Kristen, pendeta yang membaptisnya memberi nama "Pilipus" di depan Asmari), adalah seorang teladan rohani yang tak mungkin aku saingi. Jika banyak generasi saat ini kecewa dengan ayah mereka, aku adalah orang yang bangga dengan ayahku yang hidup di dalam persekutuan intimnya dengan Sang Khalik alam ini.
Ibuku seorang yang sangat sederhana. Bahkan hingga saat ini ia tidak mempunyai kesempatan untuk membaca Alkitab, karena "kebutaannya" akan akan simbol-simbol yang biasa kita sebut dengan huruf ini. Mungkin salah kami juga (anak-anaknya) yang tidak dengan tekun mengajarnya membaca. Namun demikian, tiap hari tidak pernah ia lewatkan tanpa menyapa Yesus yang telah menyelamatkannya. Dan lebih dari itu semua, ia sangat mengasihi aku, anaknya yang bungsu...

Aku lahir sebagai putra bungsu dari tujuh bersaudara, tiga orang perempuan, dan empat orang laki-laki (termasuk aku). Saat ini Mbak Lies, Mbak Mien, Mas Didik, Mas Nduk Kris, Mas Yi, dan Mbak Ester telah hidup sebagai diaspora di dalam keluarganya masing-masing. Hanya Mbak Lies yang tinggal bersama Ibu dan Bapak, karena suaminya yang meninggal, ketika Bonny, anaknya, masih kanak-kanak.

Sejarah adalah milik-Nya. Its history is His-Story... Tiga puluh dua tahun aku hidup di dunia ini. Lahir dari keluarga yang "biasa-biasa saja," namun Dia mengganggap aku "istimewa" sehingga Tangan-Nya menebusku dan bahkan menjadikan aku "mitra kerja-Nya." Zelo zelatus pro Deo...
"Karena kasih karunia-Nya, aku ada sebagaimana aku ada sekarang ini. Dan kasih karunia-Nya tak akan kubuat sia-sia."