07 October 2006

Kesendirian adalah Sebuah Anugerah



Menjalani hari-hari seorang diri (alone) itu enggak enak. Namun, merasa merasa sendiri (lonely) meski ada banyak teman, lebih membuat kita menderita.

Yang lebih menyakitkan lagi adalah, menjalani hari-hari seorang diri dan sekaligus merasa tanpa teman untuk berbagi; to be alone and to be lonely too. Beberapa hari ini aku mengalaminya... Sepi abiez...

Namun satu yang menghiburkanku, Sang Penebusku tidak pernah meninggalkan aku sendiri. Kamu tahu mengapa? Karena satu alasan yang mendasar: Dia pernah ditinggalkan seorang diri. Semua teman meninggalkan-Nya, bahkan semua manusia berpaling daripada-Nya. Bukan hanya itu... bahkan seluruh mahluk tidak mempedulikan kesendirian dalam kepedihan-Nya. Yang lebih menyakitkan lagi: Bapa yang begitu intim dalam hidup-Nya seolah juga berpaling dari pada-Nya. "Mengapa Engkau meninggalkan Aku?" demikian jeritan sepi-Nya.


Sang Penebusku, Engkau pernah ditinggal sendiri, benar-benar seorang diri... Apalah arti kesendirianku bagi-Mu.
Terima kasih buat anugerah kesendirian ini, di mana aku lebih mengenal penderitaan kesendirian-Mu di kayu salib.
Terima kasih Yesus, Sang Penebusku.

27 September 2006

Gairah cinta yang bergulir di tengah musim...
(sekali lagi refleksi dari Kidung Agung 2:8-3:5)


Kekasihku mulai berbicara kepadaku: "Bangunlah manisku, jelitaku, marilah! Karena lihatlah, musim dingin telah lewat, hujan telah berhenti dan sudah lalu. Di ladang telah nampak bunga-bunga, tibalah musim memangkas; bunyi tekukur terdengar di tanah kita. Pohon ara mulai berbuah, dan bunga pohon anggur semerbak baunya. Bangunlah, manisku, jelitaku, marilah! Merpatiku di celah-celah batu, di persembunyian lereng-lereng gunung, perlihatkanlah wajahmu, perdengarkanlah suaramu! Sebab merdu suaramu dan elok wajahmu!" (2:11-15)

Kala sang kekasih laki-laki terus berlari - bagai kijang dan anak rusa - ingin segera menangkap kekasih perempuannya, sang kekasih perempuan lebih merindukan suatu perhatian yang penuh, kedewasaan di dalam penjagaan.

Dua kekasih ini akhirnya merayakan sukacita yang mereka rasakan di tengah ciptaan Allah dan di dalam aroma cinta mereka. Tuhan menciptakan dunia ini, segala keindahannya, mengaruniakan cinta kasih, keindahan seksualitas, serta memberikan kita kepekaan dan perasaan untuk menikmati semua itu.
Nikmati semua keindahan ciptaan-Nya, cinta, dan seksualitas di dalam luapan syukur kepada Dia yang telah memberikannya.

"Tangkaplah bagi kami rubah-rubah itu, rubah-rubah yang kecil, yang merusak kebun-kebun anggur, kebun-kebun anggur kami yang sedang berbunga!" (2:15)

"Rubah-rubah kecil" adalah sebuah gambaran bermacam masalah yang dapat mengganggu ikatan kasih dan pernyataannya di dalam jalinan kasih saling mencintai. Dua orang kekasih yang telah berkomitmen di dalam membangun ikatan cinta kasih mereka harus menyadari apa yang menjadi "rubah-rubah kecil" dalam ikatan kasih mereka yang berpotensi mengganggu kebun anggur cinta (pernikahan) di antara mereka. "Rubah-rubah kecil" itu harus ditangkap untuk kemudian terus diwaspadai oleh kedua kekasih di dalam menjalani ikatan cinta kasih di antara mereka.

Duhai kawanku, pemuda-pemudi yang masih berlari ke sana kemari bagai kijang lepas dari perangkap pemburu; janganlah bangunkan cinta sebelum waktu yang dikehendaki-Nya... Dambakan itu di dalam syahdu paku bersama Sang Khalik... Rindukan itu bersama ketenangan Kasih Sang Penebusmu... Namun, janganlah mereguknya sebelum waktu yang diberikan-Nya...

26 September 2006

Jangan Kaugerakkan Cinta Sebelum Waktunya...


Membaca Kidung Agung...?
Pasti banyak jemaat yang masih "blingsatan" ketika membacakannya. Bahkan harus diakui, para pengkhotbah di gereja seakan "tabu" mengkhotbahkannya. Makanya, jangan heran kalau remaja dan pemuda gereja "nyengir-nyengir kuda" ketika membaca kitab yang satu ini.
Porno...? Please dehh... Minta ampun sama Tuhan...
So what geetu loh...?

Yang pasti, sebenarnya orang Kristen musti bersyukur, karena Alkitab yang adalah satu-satunya Pedoman Hidup yang dapat diandalkan, berbicara sangat jujur tentang realita kehidupan manusia. Manusia itu utuh, karena Allah juga menciptakan dan mengasihinya secara utuh. Antara kebutuhan psikis, kebutuhan rohani, dan bahkan kebutuhan tubuh (baca: seksualitas), tidak ada yang dinomorduakan Allah, untuk dianugerahkan-Nya bagi manusia.
Jadi, Kidung Agung adalah penyataan Allah yang Agung tentang relasi yang paling intim antara dua insan yang disatukan-Nya. Kidung Agung adalah sebuah blueprint kehidupan seksualitas yang kudus dan penuh rasa syukur.

Seksualitas adalah untuk disyukuri di dalam "tenda pernikahan" Bukan untuk diumbar di pasar swalayan. Bukan pula untuk di-peti-es-kan seperti kasus korupsi yang melibatkan pejabat...

"...., demi kijang-kijang atau demi rusa-rusa betina di padang: jangan kamu membangkitkan dan menggerakkan cinta sebelum diingininya!" (Kidung Agung 2:7)

(24 September 2006, Sebuah Refleksi tentang Cinta dan Seksualitas)

19 September 2006



Latihan Badani Terbatas Gunanya...

(tapi tetep ada gunanya kog...)

Percaya atau nggak (percaya aja deh...), menjadikan hidup kita sebagai persembahan yang hidup bagi Tuhan bukanlah perkara yang mudah. Buktinya, untuk bertahan dari rasa kantuk di dalam pekerjaan setiap hari bagi Dia saja susah puol...

Anakku, Si Theo, dengan lugu ngomong, "Makanya, olah raga Yah, tiap hari. Jangan bobo' terus." Ups... aku diomeli Si Kecilku nih...

Memang benar, apa yang dimaksud Rasul Paulus dengan "latihan badani" bukanlah olah raga, tapi okelah kalau aku mencomot ayat tersebut untuk sekedar mengatakan kepada diri sendiri... "Kuasai dirimu dengan baik, latihlah untuk kebugaran bagi pekerjaan Tuhan." Bukankah persembahan hidup bagi Tuhan juga menyangkut kesehatan dan kebugaran tubuh ini...? Kalau sakit dan penuh kolesterol mana mungkin dapat memberikan hidup sebagai persembahan bagi Tuhan... 'Tul enggaak... (tuuuul....).

Buat yang rajin olah raga, berikan hidupmu bagi Tuhan; tubuhmu, hatimu, dan seluruh jiwamu...

15 September 2006


Kesatuan bukanlah keseragaman...
Kesatuan adalah menerima perbedaan apa adanya (dan bukan "ada apanya").
Kesatuan sejati adalah sebuah proses saling asah... saling asuh... dan bukan saling sesah...
Kesatuan sejati dikerjakan oleh Pribadi Ruh Suci yang melahirkan vitalitas alias kesegaran hidup; bangkit dari hidup yang usang... menuju hidup yang gress...
Kesatuan sejati harus ada di dalam sebuah persekutuan yang menyebut Dia: "Sang Penebusku."
(catatan 14 Sept. 06)

12 September 2006


Character Assassination
(sekali lagi pembelajaran dari Nehemia)

Bagaimana seorang Kristen meresponi sebuah character assassination?

Character assassination bukanlah sebuah "asinan karakter" atau "karakter yang asin." Character assassination dapat diartikan sebagai “pembunuhan karakter” atau dengan istilah yang lebih sadis: “pembantaian karakter.” Beberapa waktu yang lalu istilah ini mencuat, ketika seorang tokoh politik, Si Anu, merasa karakternya di assassin-ni (jangan baca: “di-asin-ni”) oleh tokoh politik Si Anu yang lain. Istilah yang lebih umum dari “pembantaian karakter” adalah “pencemaran nama baik.” Kita sering mendengar seorang artis Si Itu sedang melapor ke Polda (wuih… bukan main-main nih), karena merasa namanya dicemarkan oleh artis Si Itu yang lain.

Ternyata Indonesia bukan hanya negeri dengan seribu kasus pencemaran sungai oleh limbah industri, tetapi juga negeri dengan sejuta kasus pencemaran nama baik (yang sebetulnya sudah enggak baik…).
Budaya abad ini adalah budaya saling menuntut. Atas nama “hukum,” seseorang dengan mudah menuntut orang lain dengan tuntutan "pencemaran nama baik." Dan kisah “pencemaran nama baik” ini ternyata lebih menarik ibu-ibu rumah tangga (bersama pembantu rumah tangganya…), daripada kasus-kasus pencemaran limbah industri yang semakin menyedihkan.

Terkadang aku berpikir, apa yang sedang diperjuangkan manusia abad ini? Sebuah nama baik, ataukah ego manusia yang mengalami obesitas?

Lalu, bagaimana sikap seorang Kristen dengan "pencemaran nama baiknya"? Nehemia mempunyai sikap yang sangat menarik untuk kita pelajari (Neh. 6:1-19):
1. Ia tetap fokus pada pekerjaan yang Allah percayakan kepadannya (ay. 3-4). Nehemia tahu bahwa setiap mengerjakan pekerjaan Tuhan, pasti ada "oknum-oknum" yang tidak akan tinggal diam mengganggu jalannya pekerjaan itu.
2. Ia menyerahkan penuh masalah character assassination atau "fitnah" kepada Allah yang akan bekerja membalas mereka (ay. 9, 14).
3. Nehemia menggunakan hikmat Tuhan untuk mengetahui siapa lawan siapa kawan sejati, karena di dalam pekerjaannya juga ada orang-orang yang berkhianat kepada Sanbalat dan Tobia (ay. 10, 17-19).

Integritas hidup dan kebergantungan mutlak kepada Tuhan adalah kunci kemenangan seorang Kristen terhadap character assassination.