22 October 2010


My Morning Waker


Akhir-akhir ini ritme bangun tidurku mengalami "keajaiban"... Hampir setiap malam aku men-set alarm pada HP ku agar aku bisa bangun sedini mungkin, dan melakukan hal-hal yang berguna. Namun, entah mengapa tangan ini sering refleks mematikan alarm tanpa sadar aku harus bangun.

Nah, justru karena aku selalu gagal bangun pagi dengan bantuan alarm HP-ku, beberapa pagi ini Tuhan berikan aku "tangan mungil" yang selalu menarik-narik tanganku, "Yah, banun, Yah... Yah, banun" begitu suara kecil namun keras itu berusaha membangunkanku. Seolah yakin dengan kekuatannya yang masih kecil itu, "tangan mungil" yang ternyata tangan Jonathan, anakku yang kecil itu berusaha menarik badanku yang mungkin 6-7 kali lipat berat badannya. Maka, capek atau tidak capek, ngantuk atau tidak ngantuk, aku harus bangun... Itulah Jonathan, "my real waker." Terima kasih, Tuhan. Engkau menghadirkan banyak keajaiban dalam hidupku.

21 October 2010

Kesombongan:

Mengandalkan Diri dan Mengesampingkan Tuhan

2 Samuel 24:1-17



Apa yang salah dengan sensus dan melakukan kalkulasi kekuatan militer? Bukankah seorang pemimpin yang baik harus mampu menghitung kekuatan diri dan kekuatan lawan agar tidak mati konyol?

Daud melakukannya, di saat semua kemenangan gilang gemilang telah diraihnya. Dan itulah yang dipandang jahat di mata Tuhan, meski "hasutan" itu datang dari Allah sendiri (melalui Iblis - 1 Taw. 21:1). Seharusnya Daud sudah sangat mengenal Allah dengan begitu dekat, sehingga prinsip utama dari kepemimpinannya tidak boleh ia lupakan: bergantung penuh kepada kekuatan Allah dan bukan pada kekuatan militer! Kepemimpinan Daud atas Israel adalah kepemimpinan perwakilan Allah. Daud adalah "raja wakil" yang memimpin Israel dengan kekuatan Raja Israel yang sejati, yaitu Allah Yahweh.

Dan keputusan sensus militer inipun mendatangkan murka dan hukuman Allah atas Israel.

Apa yang bisa dipelajari dari kisah ini?

  1. Apa yang seringkali kita anggap sebagai "suara Tuhan" harus diuji oleh prinsip-prinsip Firman Tuhan yang mendasar, sehingga kita tidak tersesat dengan apa yang nampak sebagai "suara Tuhan" namun bukan menjadi Kehendak Tuhan.
  2. Menghitung kekuatan militer menunjukkan arogansi dan kesombongan Daud yang mengira kemenangan-demi-kemenangan yang diraih adalah karena kekuatan militer. Dia lupa bahwa Allah-lah yang berperang bagi Israel. Jadi, jangan pernah andalkan diri sendiri. Jika Allah benar-benar Kekuatan dan Gunung Batu kita (bukan slogan rohani semata), jika Dia adalah Pahlawan kita, siapa yang kita andalkan di dalam perjuangan-perjuangan hidup kita? Kuasa kemenangan-Nya di dalam Kristus ataukah kekuatan kita yang arogan (namun rapuh)?
  3. Pertobatan Daud adalah teladan yang sangat baik: pertobatan terjadi sebelum teguran nabi Tuhan (ay. 11), dan ia rela dan taat dengan risiko hukuman Allah. Dan ini kemudian menjadi suatu refleksi doa dalam kehidupan Daud: "Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.

6:08 AM

20 October 2010

Antara Tuhan, Kekayaan dan Kemiskinan


Mengikuti sebuah acara di Jakarta medio Oktober yang lalu, membuatku termenung sejenak. Bersama rekan-rekan sejawat, aku mengikuti sebuah momen yang mencoba memikirkan kembali langkah-langkah transformatif bagi masalah bangsa; salah satunya adalah masalah kemiskinan. Dengan menggerakkan sebanyak mungkin komponen kekristenan dalam jejaring, acara "gede" mencoba menggagas langkah-langkah praktis dan implementatif untuk merubah wajah miskin negeri ini.
Namun, sebuah ironi segera tergambar ketika memasuki gedung megah nan mewah yang digunakan untuk acara mahal ini. Ruang super sejuk, ditambah peralatan gedung yang super canggih, segera membuat aku "terbius" dengan kenyamanan. Dan waktu yang merangkak, tanpa sadar tidak membuatku gerah dan resah. Pagi berganti siang, siang berganti malam, semua tetap sama di dalam gedung yang serba super ini: kenyamanan!
Bagiku, agak sulit memang memikirkan dan meresapi perjuangan bagi kemiskinan yang radikal, dengan suasana yang meninabobokan tersebut. Gereja yang berbalut jubah mewah nan kemilau, nampaknya agak sulit untuk masuk ke dalam gang-gang yang becek dan penuh comberan... Bukankah teladan Kristus sudah begitu jelas: inkarnasi - menjadi satu daging dengan orang yang kita layani?
Secara teologis aku berpikir, antara Tuhan - Kekayaan - dan Kemiskinan... Jelas kemiskinan adalah buah dosa, buah ketidakadilan, buah dari perilaku korup. Kemiskinan adalah musuh Allah... Namun jelas kekayaan dan kemewahan yang menyolok di tengah gubuk-gubuk kemiskinan negeri ini bukanlah design Allah untuk "umat tebusan-Nya." Kembali tergambar uraian Sang Guru: "Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum..."
Yah, semoga kami semua selalu ingat bahwa yang penting bukanlah apa yang kami pikirkan dan diskusikan, tetapi apa yang kami perjuangkan dalam tindak nyata untuk "menghapus potret kemiskinan" negeri ini - paling tidak, potret itu tidak akan terlalu memilukan...
PUISI DOA DI JAKARTA – WS RENDRA

Tuhan yang Maha Esa,
alangkah tegangnya
melihat hidup yang tergadai,
fikiran yang dipabrikkan,
dan masyarakat yang diternakkan.

Malam rebah dalam udara yang kotor.
Di manakah harapan akan dikaitkan
bila tipu daya telah menjadi seni kehidupan?
Dendam diasah di kolong yang basah
siap untuk terseret dalam gelombang edan.
Perkelahian dalam hidup sehari-hari
telah menjadi kewajaran.
Pepatah dan petitih
tak akan menyelesaikan masalah
bagi hidup yang bosan,
terpenjara, tanpa jendela.

Tuhan yang Maha Faham,
alangkah tak masuk akal
jarak selangkah
yang bererti empat puluh tahun gaji seorang buruh,
yang memisahkan
sebuah halaman bertaman tanaman hias
dengan rumah-rumah tanpa sumur dan W.C.
Hati manusia telah menjadi acuh,
panser yang angkuh,
traktor yang dendam.

Tuhan yang Maha Rahman,
ketika air mata menjadi gombal,
dan kata-kata menjadi lumpur becek,
aku menoleh ke utara dan ke selatan -
di manakah Kamu?
Di manakah tabungan keramik untuk wang logam?
Di manakah catatan belanja harian?
Di manakah peradaban?
Ya, Tuhan yang Maha Hakim,
harapan kosong, optimisme hampa.
Hanya akal sihat dan daya hidup
menjadi peganganku yang nyata.

...

16 October 2010

Menebus Generasi Pop


Benar-benar sudah cair generasi ini... Enggan berkomitmen, yang penting having fun, dan asyik dengan dirinya sendiri... Ke sana ok, ke sini ok, yang penting rame-rame... Dan ketika diajak untuk diam sejenak, menanti Tuhan, mereka berkata, "Mana sempat...? Hhmm, mana sempat?"
Maka ketika aku berdiri di sini, memandang generasi ini, aku menghela nafas, "Yah, generasi telah berubah... Mungkin aku terlambat mengejar perubahan ini. Tuhan, limpahkan hikmatmu untuk aku dapat menjangkau mereka, dan menolong mereka ke dalam rengkuhan-Mu.
Bagi "generasi pop", otoritas bukanlah masalah usia. Otoritas bukan masalah jabatan. Otoritas yang akan benar-benar diterima oleh generasi ini adalah otoritas ilahi. Otoritas yang datangnya dari Allah Roh Kudus, yang menyentuh hati, serta menggerakkannya untuk bertobat. Karena itu, kahadiran Roh Kudus menjadi mutlak diperlukan bagi para pelayan yang hendak menjangkau generasi ini.

03 August 2010


A Father’s Prayer

(General Douglas MacArthur)

- a prayer for The in his birthday -



Build me a son, oh Lord,

who will be strong enough to know when he is weak

and brave enough to face himself when he is afraid;

One who will be proud and unbending in honest defeat,

And humble and gentle in victory.


Build me a son whose wishbone

Will not be where his backbone should be;

A son who will know Thee – and that to know himself

Is the foundation of knowledge.

Lead him, I pray, no tin the path of ease and comfort,

But under the stress and spur of difficulties and challenge

Here, let him learn compassion for those who fail.

Build me a son whose heart will be clear, whose goal will be high;

A son who will master himself before he seeks to master other men;

One who will learn to laugh, yet never forget how to weep,

One who will reach into the future, yet never forget the past.

And after all these things are his, add,

I pray, enough of a sense of humor,

So that he may always be serious, yet never take himself too seriously

Give him humility of true greatness,

The open mind of true wisdom, the meekness of true strength.

Then, I his father, will dare to whisper:

“I have not lived in vain.”

Ode to Theo

Serasa baru kemarin aku menimang mu
dan mengatakan "cepatlah besar, Nak."
Serasa baru kemarin aku bermain pasir bersamamu

dan belajar memberi nasihat, "setelah ini cuci tanganmu, ya Nak."
Serasa baru kemarin, kamu menangis karena demam,
dan aku gelisah, mencoba mengurangi deritamu.
Kini usiamu sudah beranjak 8 tahun, tanpa terasa.
Bahkan tubuhmu membesar dan melampaui anak-anak seusiamu.
Jika hari ini aku menatapmu, ada syukur yang membual dalam hati.
Ternyata Tuhan memberikanmu untukku, agar aku belajar
bagaimana mendemonstrasikan kasih sekaligus keadilan,
menunjukkan pelukan di antara pendisiplinan,
menyatakan bentakkan, tetapi tetap mengucapkan sayang.
Selamat Ulang Tahun, Anakku.
Doaku bagi masa depanmu;
Dalam genggaman Tuhan dan tuntunan firman-Nya.
Diberkatilah masa mudamu, diberkatilah masa tuamu,
diberkatilah hidup dan duniamu.