16 December 2014

Mengambil Nilai Diri Kita dari Kristus

Kolose 1:9-20
"Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia"
Kol. 1:19

Pendapat orang cenderung menjadi masalah besar bagi kita, dan ego manusia seringkali membawa kita untuk mencari nilai diri kita di dalam pujian dan kritik orang lain. Kita dengan mudah melambung gara-gara pujian, dan sebaliknya menjadi terluka karena kritik orang lain. Namun kita perlu menyadari bahwa keinginan hati manusia begitu luas dan dalam sehingga pujian dari orang lain tidak akan pernah cukup untuk sepenuhnya memuaskan kita. Begitu pula, ketika kira mengerti betapa luasnya alam semesta yang tidak berujung, kita sadar bahwa bumi kita bukanlah pusatnya. 
Cara pandang yang demikian melepaskan kita dari sikap mementingkan diri sendiri dan membuka mata kita pada gagasan bahwa bisa jadi ada sesuatu atau seseorang yang lebih besar dan lebih tinggi daripada diri kira, yang layak menjadi tujuan hidup kita. Apabila kita mencoba untuk mencari nilai diri kita dari keberhasilan atau kegagalan kita, ataupun pujian dan kritik orang lain, kita akan selalu jauh dari kepuasan. Hati kita hanya dapat memperoleh kelegaan ketika nilai diri kita bersalah dari karya Kristus yang sempurna. Kristus adalah sumber, sarana, dan tujuan dari segala sesuatu, dan Dia adalah satu-satunya yang layak bagi hati dan hidup kita. Hanya di dalam Kristuslah kita akan mendapat kepuasan terdalam ketika mendngar Bapa kita berkata, "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan" (Luk. 3:22).

05 December 2014

Memulihkan Dukacita 
dalam Penyembahan
Refleksi Ratapan 2:1-10


Berapa banyak dari kita yang pernah masuk ke suatu kebaktian setelah mengalami minggu yang amat berat, dan terpaksa "berpura-pura khusuk" mengikuti ibadah? Sementara dunia Anda runtuh, Anda mengikuti irama musik, terpaksa tersenyum dan berjabat tangan dengan orang di samping Anda, dan membalas salam khas sang gembala, dan di tengah semuanya itu Anda merasa tidak sungguh terlibat dalam seluruh pengalaman tersebut. Dalam budaya pop saat ini, bahkan ketika ada pemimpin pujian bertanya apa kabar Anda, dengan "terpaksa" Anda harus menjawab, "luar biasa!"

Penyembahan dalam firman tidak selalu harus dengan bertepuk tangan dan menari-nari. Ketika kita membaca Mazmur, di situ bahkan ratapan dan dukacita yang mendalam, serta ungkapan hati yang remuk redam begitu nyata diungkapkan. Ada pula amarah, keputusasaan, seruan memohon keadilan, dan bahkan pertanyaan di tengah-tengah penderitaan - "Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? (Mzm. 13:1).
Sebaliknya, kebaktian Minggu kita saat ini  sudah semakin tidak peka dengan persoalan kehidupan nyata jemaat. Kebaktian Minggu kontemporer malah semakin mirip acara hiburan (yang bersifat membius), dimana bahkan secara eksplisit jemaat diminta untuk sejenak meninggalkan dan melupakan permasalahan kehidupannya.

Gereja perlu kembali melakukan praktik alkitabiah untuk meratap dalam ibadah, sebab banyak hal di dunia ini yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Kita adalah masyarakat yang tidak tahu lagi bagaimana seharusnya berdukacita - berduka atas dosa kita, berduka atas ketidakadilan dunia, dan berduka atas penderitaan lain (Matius 5:4). Bisa jadi, pola kebaktian Minggu gereja-gereja saat ini yang sedikit banyak "membius" jemaat, telah melahirkan sikap apatis dan kurang empati jemaat terhadap penderitaan dan dosa-dosa dalam masyarakat kita. Yesus sendiri adalah seorang yang mudah bersedih. Namun, Allah selalu muncul di tengah-tengah persoalan kehidupan nyata. Di tengah kehancuran inilah Dia membawa kita makin mendekat kepada-Nya.

(diangkat dan diedit dari Living Life, 4 Desember 2014)

28 September 2014

Bright Star

by. John Keats

Bright star, would I were stedfast as thou art—
         Not in lone splendour hung aloft the night
And watching, with eternal lids apart,
         Like nature's patient, sleepless Eremite,
The moving waters at their priestlike task
         Of pure ablution round earth's human shores,
Or gazing on the new soft-fallen mask
         Of snow upon the mountains and the moors—
No—yet still stedfast, still unchangeable,
         Pillow'd upon my fair love's ripening breast,
To feel for ever its soft fall and swell,
         Awake for ever in a sweet unrest,
Still, still to hear her tender-taken breath,

And so live ever—or else swoon to death. 


(a poem for someone from the past and for the present and future)

06 December 2012

Pemberian Yang Menggetarkan

Tuhan, sekarang aku mengerti
benar-benar mengerti
mengapa Engkau begitu menghargai pemberian sang janda miskin
memang Engkau Allah yang terlalu kaya
yang tidak mungkin bisa disuap dengan persembahan yang melimpah
yang dipersembahkan dengan keangkuhan dan kelimpahan

Namun aku pikir bukan karena Engkau terlalu kaya,
sehingga Engkau tidak gampang silau dengan setumpuk harta yang disodorkan.
Aku mengalami beberapa hari ini,
apa yang aku sebut persembahan atau pemberian yang menggetarkan.
Aku yakin, sebagai Allah yang penuh belas kasih dan rahmat,
Engkau telah sangat tergetar dan begitu kagum
akan pemberian seorang janda, yang memberi dengan segenap hati dan hidupnya
karena di saat memberi sang janda itu memberi sedikit dari seluruh miliknya,
dan itu berarti memberi seluruh hidupnya.
Itulah pemberian yang menggetarkan.

dan hatiku begitu tergetar dan terharu,
ketika orang-orang sekelilingku
yang kepadanya aku seharusnya memberi hatiku, doaku, dan bahkan hidupku,
namun dengan tangan-tangan mungil mereka
dengan keterbatasan mereka
dengan segala kekurangan mereka
mereka malah berlomba memperhatikan dan memberi bagi hidupku.
Mereka telah memberi dengan hati dan hidup mereka, Tuhan.
dan jujur aku terharu...
menangis dalam hatiku.

Pertanyaan yang kemudian selalu mengganggu benakku sekarang;
Apa yang telah kuberikan bagi mereka?
Apakah aku telah memberi hati dan hidupku?
Memberi di saat aku renta dan lemah?
Memberi di saat aku membutuhkan?

Tuhan, satu saja doaku...
"Biarkan aku belajar memberi Sebuah Pemberian yang Menggetarkan."



04 November 2012

Apakah Allah Menghukum Orang Jahat? (Ayub 18:1-21)

Setiap kali terjadi tragedi atau malapetaka hebat, selalu saja ada orang yang akan berkata bahwa itu hukuman Tuhan. Mereka akan berkata, "Badai ini terjadi karena hari itu hendak diadakan parade untuk orang-orang homo" atau "Saya senang karena rumah-rumah itu hangus terbakar. Sekarang orang-orang kaya itu sudah tidak punya apa-apa lagi, jadi saya bisa menginjili mereka." Pernyataan-pernyataan ini tidak saja menyiratkan bahwa Allah menimpakan hukuman melalui segala macam malapetaka, tetapi bahkan juga menikmatinya.

Apakah Allah menghakimi kita? Benar. Namun, apakah Allah senang menghukum kita? Tentu saja tidak! Allah adalah kasih (1 Yoh. 4:8), dan "Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (1 Kor. 13:6-7). Pendeknya, Allah tidak pernah bersukacita dengan adanya malapetaka; apalagi mengatakan bahwa segala malapetaka dan tragedi merupakan perbuatan dan hukuman Allah (seperti yang tampaknya hendak disiratkan Bildad dalam Ayub 18), itu keliru. Itu merupakan pengertian keliru tentang jati diri Allah.

Don Carson menjelaskan dengan berkata, "Suatu bencana bisa jadi tidak lebih merupakan efek samping kejatuhan manusia dalam dosa, bukan penghakiman Allah secara khusus terhadap sekelompok orang tertentu. Bahkan bencana dapat mengingatkan bahwa kita bisa mati dan bahwa kita terhilang, serta memanggil kita untuk bertobat... Karena itu, dengan adanya bencana, kita perlu menguji diri sendiri dan merendahkan hati. Begitu pula, penyakit berat bisa jadi bukan merupakan akibat langsung dari dosa tertentu (Yoh. 9). Namun, juga bisa jadi demikian (Yoh. 5)." Jangan menyibukkan diri dengan berdebat mengenai hal-hal mana yang merupakan hukuman dari Allah. Semua itu sungguh perdebatan yang tidak berguna. Sebaliknya, berfokuslah pada hal yang harus kita semua akui kebenarannya, yaitu bahwa manusia perlu bertobat dan diselamatkan (dalam Kristus).

(diambil dari Living Life, 02 November 2012)

20 July 2012

Aku menyaksikan dari jendela kamar, tangan kanan Jo kecilku memukul teman bermainnya yang badannya jauh lebih kecil. Aku geram dan kecewa melihat penindasan yang dilakukan anakku itu. Dengan marah aku menghampiri Jo kecilku, dan kuminta dia menyodorkan tangannya. Maka dengan pilu bercampur dengan marah (sejujurnya dengan sangat berat hati), aku memukul kedua tangan Jo kecilku. Memang aku tetap bisa mengontrol keras pukulan tanganku ke tangan mungilnya, namun toh dia tetap meringis kesakitan. Sambil kemudian memeluknya, aku berkata: "Sakit nggak tangan Jo? Nah, kepala temanmu pasti juga sakit. Makanya jangan suka memukul teman. Ayah sayang sama Jo. Tapi ayah gak suka kalau Jo jahat dan suka pukul temannya. Tangan Jo bukan buat mukul teman, tapi menyayangi mereka. Jo mau janji nggak untuk gak suka main pukul lagi?" Dengan masih terisak Jo menjawab, "He eh..."

Ah, kalau seorang ayah yang penuh dosa ini begitu sedih dan pilu menyaksikan anaknya menindas dan semena-mena terhadap temannya, apalagi BAPA kita di sorga. Tentu DIA akan sangat pilu dan berduka, jika kita yang begitu dikasihi-Nya dengan limpah kasih dan rahmat, masih hidup di dalam dosa dan kesemena-menaan... Kiranya kita diberikan hikmat untuk hidup taat kepada BAPA kita di sorga...

02 March 2012

Makin Dihambat - Makin Merambat

 "Bangsa Israel itu sangat banyak dan lebih besar jumlahnya dari pada kita. Marilah kita bertindak dengan bijaksana terhadap mereka, supaya mereka jangan bertambah banyak lagi dan  —  jika terjadi peperangan  —  jangan bersekutu nanti dengan musuh kita dan memerangi kita, lalu pergi dari negeri ini." Sebab itu pengawas-pengawas rodi ditempatkan atas mereka untuk menindas mereka dengan kerja paksa: mereka harus mendirikan bagi Firaun kota-kota perbekalan, yakni Pitom dan Raamses. Tetapi makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang. (Keluaran 1:9-12)


Kapanpun, di sepanjang sejarah hidup manusia, umat Tuhan (Perjanjian Lama) dan gereja-Nya (Perjanjian Baru hingga saat ini) selalu akan hidup di dalam apa yang disebut "Dinamika Penganiayaan dan Berkat Misterius."  Sejarah memberikan kesaksian kepada kita; ketika umat Tuhan di dalam tekanan, maka mereka makin berkembang secara jumlah, dan militan dalam iman.  Namun ketika umat Tuhan dalam suasana yang nyaman, mereka akan berada dalam bahaya "stagnasi pertumbuhan." Justru dalam tatanan hidup yang serba nyaman, kekristenan semakin melempem, bak kerupuk yang kehilangan kerenyahan karena dinginnya udara.

Pagi ini saya menemukan realita yang sama dalam sejarah keselamatan Israel. Mengawali catatan Keluaran, Musa sebagai penulis Kitab Keluaran menggambarkan episode suram kehidupan umat pilihan Allah. Generasi Firaun yang lupa jasa-jasa Yusuf telah bangkit, dan eksistensi Israel yang berkembang dengan luar biasa akhirnya dilihat sebagai ancaman bagi kekuasaannya. "Marilah kita bertindak bijaksana terhadap mereka..." demikian titah penguasa dunia.  Jangan heran, sejak dulu hingga sekarang, apa yang disebut "bijaksana" bagi penguasa, belum tentu bijaksana di hadapan Tuhan.  Maka apa yang disebut tindakan bijaksana Firaun ini justru sebenarnya adalah perilaku brutal yang menjurus kepada genosida; penindasan kepada kaum Ibrani.

Namun, justru di dalam tekanan dan penindasan yang kejam tersebut, Tuhan menunjukkan kuasa-Nya dalam menggenapi rencana-Nya yang kekal. "Tetapi makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang," demikian Alkitab mencatat berkat misterius Allah atas umat-Nya. Baik dahulu dalam sejarah Israel Perjanjian Lama, baik dalam masa gereja Perjanjian Baru, maupun saat ini dalam dunia modern, umat-Nya akan makin berkembang dan bertumbuh, baik secara jumlah maupun terutama dalam kadar iman mereka.  Chrysostom, seorang bapak gereja, pernah memberikan komentar bijaksananya: "Gereja itu seperti obor - semakin dipukul, semakin besar kobarannya.  Kekristenan seperti burung api, yang selalu hidup kembali dari abu para martir.  Oleh karena itu, biarkanlah para pembesar bersekongkol dan berencana menentang Kristus dan Gereja-Nya; mereka membayangkan hal yang sia-sia belaka."

Tantangan bahkan penindasan akan datang.  Penganiayaan mungkin akan terjadi.  Namun, jangan jadikan hal itu sebagai ratapan yang berfokus pada diri kita pribadi. Ingatlah bahwa ada orang-orang percaya di negara-negara seperti China, Korea Utara, yang saat ini mengalami  penganiayaan seperti bangsa Israel dalam kitab Keluaran.  Yang pasti harus kita ketahui adalah, selalu ada orang percaya sejati di negara-negara di mana penindasan atas umat-Nya terjadi. Tidak ada api penganiayaan yang sanggup membinasakan mereka. Sekalipun pemerintah berusaha menentang Allah, itu akan sia-sia karena kita dipanggil untuk merdeka. Maka, pesan saya buat Saudara-saudari di GKI "Yasmin" maupun gereja-gereja lain yang sedang menghadapi tekanan atas "restu" pemerintah: Ingat, api penindasan tidak boleh membakar dan melenyapkan iman percaya kita kepada Kristus! Karena misteri berkat-Nya sedang bekerja!  Dihambat, namun merambat!

29 February 2012

Kita Bukan Sebuah Kecelakaan


 
Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya -- Mazmur 139:14-16.


Ketika membaca dan merenungkan Mazmur 139 (terutama pada bagian ayat 14) saya teringat pada pertanyaan seorang rekan, yang menanyakan apa maksud Tuhan mengijinkan seorang bayi yang cacat parah, yang kemudian lahir dan hidup di tengah dunia ini. Secara manusia, dalam hitungan logika manapun dan dengan pertimbangan ilmu sosial serta kemanusiaan manapun, membiarkan seorang bayi yang lahir tanpa tangan dan kaki, serta jantung yang bermasalah adalah sebuah pilihan fatal. Singkatnya, lebih baik bayi yang demikian mati saat lahir, daripada hidup menyiksa orang-orang di sekitar hidupnya.

Tapi apa yang dicatat Mazmur 139:14 tidak ada kekecualian. Tuhan tidak salah ketika "menuntun" dan "menghembuskan" Roh-Nya agar pemazmur menulis demikian: "Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya."  Bukan, ini bukan sebuah kekeliruan dan terdapat pengecualian!  Seluruh kehidupan dan keberadaan manusia adalah "dasyat dan ajaib" dalam penciptaan-Nya. Allah merancang setiap kita secara khusus sebagaimana dipandang-Nya baik. Setiap anggota tubuh (meski secara medis tidak sempurna) dan setiap rambut ditetapkan Allah.  Namun, bahkan banyak orang yang lahir dengan tubuh sempurna (lengkap) tidak puas dengan keberadaan mereka. Mereka (atau bahkan kita) berharap seandainya bisa lebih kurus, lebih tinggi, lebih putih, lebih mancung hidungnya, dan lain sebagainya.  Terlalu banyak hal yang mungkin selama ini kita keluhkan dalam tubuh kita.

Marilah saat ini kita merenungkan dengan serius firman Tuhan dalam Mzmur 139:14 ini. Bahkan bagi orang yang lahir tidak "sempurna" dan penuh cacat, Tuhan tetap "menenun" mereka dengan dasyat dan ajaib. Tuhan tidak pernah kejam ketika seorang anak lahir cacat.  Allah memiliki rencana yang baik bagi semua orang.  Nick Vujicic adalah pria yang lahir tanpa anggota badan langkap, tanpa tangan dan kaki. Namun, Allah telah memakainya dengancara luar biasa, bukan "sekalipun" tubuhnya demikian, melainkan karena tubuhnya demikian. Vujicic berkata, "Saya menemukan tujuan mengapa saya ada, dan juga tujuan dari mengapa keadaan saya demikian.  Ada tujuannya mengapa Anda dimasukkan ke api."

Sebagai orang Kristen, kita tahu bahwa keberadaan kita dapat membawa kemuliaan bagi Allah melalui perkataan dan tindakan kita.  Namun, kita juga dapat membawa kemuliaan bagi Allah melalui tubuh jasmani kita.  Manusia dipandang "baik" oleh Allah bukan karena ukuran-ukuran dan kriteria-kriteria manusia, tetapi karena Allah memang memandang "baik" (Kejadian 1:4, 10, 12, 18, 21, 25, 31) di dalam kriteria kemuliaan-Nya. Karena itu, setiap tubuh harus dihormati, baik yang indah "tanpa cela" maupun yang buruk rupa dalam pandangan manusia.  Setiap tubuh diciptakan oleh Sang Raja, dengan dasyat dan ajaib.

15 August 2011

Nge-Facebook dan Nge-Twitter:

Antara Berkat atau Kutuk


"Ngantuk ah... Tidur lagi...," demikian sebuah status facebook seorang rekan tertulis. Temanku yang lain menulis statusnya berbeda: "Aku merindukanmu... sayang kamu... selamanya..." Ada juga yang menulis, "aku bosan..."

Itulah status-status yang sering aku lihat di lembar-lembar web facebook. Kemudian timbul pikiran di benakku, "untuk apa semua itu ditulis di facebook?" Pertanyaan mendasar yang mungkin sering dilupakan oleh kebanyakan kita adalah, "untuk apa aku melakukan ini, untuk apa aku melakukan itu?" Apa motif terdasar kita dalam melakukan semuanya itu?

Mungkin Anda yang membaca "note" ini akan berujar, "ah gitu aja kog repot." Ya, sobat, memang jika kita ingin hidup kita lebih bermakna (meaningful), kita harus siap repot. Apalagi sebagai umat tebusan Kristus, o kita harus lebih siap lagi untuk repot. Kenapa demikian? Karena hidup kita bukan milik kita lagi, sejak kita ditebus oleh-Nya: "Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku."

Mengikut Kristus bukan sekadar mempercayai ajaran atau doktrin tertentu. Mengikut Kristus sejatinya adalah memikirkan ("thinking") dan mempraktikkan ("practicing") apa yang Yesus pikirkan dan lakukan. Untuk itu, komitmen kita untuk menekuni Alkitab sebagai satu-satunya sumber hikmat Kristus tentu dibutuhkan di sini. Jadi, "sekadar" menulis status di facebook atau "nge-tweet" di twitter pun harus kita pikirkan dengan serius, apakah status tersebut sudah selaras dengan apa yang Yesus Kristus pikirkan dan lakukan. Sekali lagi pertanyaannya bagi diri kita adalah, "apa motif dan tujuan aku menulis sebuah status?" Rasul Paulus pernah mengajar dalam suratnya: "Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah" (1Kor. 10:31).

Sobat, facebook atau twitter adalah media jejaring sosial yang luar biasa dasyat pengaruhnya bagi kehidupan generasi muda saat ini. Survey terakhir yang pernah dilakukan, generasi muda Indonesia adalah pengguna kedua terbanyak facebook di seluruh dunia setelah Amerika Serikat. Jejaring sosial ini akan menjadi "berkat", sekaligus menjadi "kutuk" di sisi yang lain. Facebook atau twitter akan menjadi "berkat" jika kita berpikir dan menggunakannya di dalam perspektif atau hikmat Kristus. Facebook atau twitter akan menjadi sarana yang efektif untuk kita menghibur rekan kita yang susah, mendorong dan menguatkan rekan kita yang putus asa, atau bahkan menyatakan kebenaran firman dan pujian (Mazmur) bagi Tuhan, serta menyaksikan Injil-Nya melalui kehebatan facebook. Facebook mampu menjadi alat efektif bagi kita untuk bermisi bagi Kerajaan dan kemuliaan Allah. Namun di sisi yang lain, facebook atau twitter akan menjadi "kutuk" jika kita sembrono menggunakannya. Bukan semata-mata jika kita mengangkat materi-materi yang negatif seperti umpatan dan ungkapan permusuhan atau kebencian melalui facebook atau twitter, tetapi bahkan jika kita mengangkat materi-materi yang tanpa makna seperti status-status yang saya kisahkan di atas melalui facebook atau twitter, maka kita sesungguhnya tidak pernah belajar menjadi murid Kristus sejati yang menyatakan terang dan berkat bagi sesama kita.

Sobat, mari kita hidup bertanggung jawab sebagai murid-murid Kristus di zaman ini. Gunakan facebook atau twitter untuk memberkati, bukan untuk "ego-centrist" diri sendiri, dan bukan untuk "narsisme" diri kita. Biarlah terang hidup Kristus menjadi nyata di dalam status-status facebook dan tweeting kita... Selamat menjadi berkat dan garam dunia.

04 August 2011

10 Tahun Mengasihimu
Serasa baru kemarin, kita merencanakan untuk menjalani sisa hari kita bersama. Serasa baru kemarin pagi kamu membangunkan aku di kamar kontrakan kita. Serasa baru dua pagi yang lalu kamu meminta tolong aku untuk menimba air di sumur rumah kontrakan mungil kita. Seminggu bersama, sebulan berpisah. Itulah hari-hari kita di tahun awal perjalanan kita bersama. Ah, sekarang, 10 tahun yang lalu, aku masih bisa mengingat debar jantungku menanti esok kita mengikat janji suci di hadapan Tuhan dan jemaat-Nya.
Kini, bukan lagi kamar kecil yang menjadi saksi komitmen kita. Bukan lagi kontrakan mungil, dengan hiruk pikuk motor yang lewat di balik temboknya yang melengkapi hari-hari kita. Bukan lagi air sumur yang bau yang menjadi minuman kita. Bahkan kita tidak perlu lagi menempuh jarak ratusan kilometer untuk merayakan kebersamaan kita.
Sekarang... ada helaan nafasmu di setiap kejap kelopak mata terbuka. Ada rumah, yang meski tak megah, tapi cukup luang untuk bermain anak-anak kita. Ada air galon, yang meski bukan dari mereka dagang wahid, tapi cukuplah untuk menggantikan air sumur pahit. Semua tersedia sebagai tanda bahwa Tuhan terus merenda kisah kita... membingkainya dengan untaian Anugerah-Nya.
Sekarang ada Theodicy Kristian Pratama, yang bahkan ukuran tubuhmu sudah semakin terlampaui. Ada Jonathan Krisna Baskara, yang terus memanggilmu "Mama" dan selalu setia mengantarkanmu belanja.
Ah... 10 tahun sudah aku mengenalmu, Kristin Ambarwati. Meski takkan tuntas aku mengenalmu, namun aku ingin semakin mengasihimu. Karena kehadiranmu adalah bagian dari kisah kasih agung Sang Pemberi Hidupku. Terima kasih istriku. Terima kasih Tuhan, untuk kehadiran penolong dalam hidupku.
(Jember, 4 Agustus 2011; mengenang 10 tahun H-1 pernikahanku).

23 December 2010

Sejarah Lagu "Malam Kudus"


Stille Nacht, heilige Nacht,
Alles schläft; einsam wacht
Nur das traute hochheilige Paar.
Holder Knabe im lockigen Haar,
Schlaf in himmlischer Ruh!
Schlaf in himmlischer Ruh!

(lagu "Malam Kudus" dalam Bahasa Jerman)

...

Kita tentu akan merasa ada sesuatu yang kurang kalau ada perayaan Natal tanpa menyanyikan "Malam Kudus," bukan?

Terjemahan-terjemahan lagu Natal kesayangan itu sedikit berbeda satu dari yang lainnya, namun semuanya hampir serupa. Hal itu berlaku juga dalam bahasa- bahasa asing. Lagu itu begitu sederhana, sehingga tidak perlu ada banyak selisih pendapat atau perbedaan kata dalam menterjemahkannya.

"Malam Kudus" sungguh merupakan lagu pilihan, karena dinyanyikan dan dikasihi di seluruh dunia. Bahkan para musikus ternama rela memasukkannya pada acara konser dan piringan hitam mereka.

Anehnya, nyanyian yang terkenal di seluruh dunia itu sesungguhnya berasal dari sebuah desa kecil di daerah pegunungan negeri Austria. Inilah ceritanya....

Orgel yang Rusak

Orgel di gereja desa Oberndorf sedang rusak. Tikus-tikus sudah mengunyah banyak bagian dalam dari orgel itu.

Seorang tukang orgel telah dipanggil dari tempat lain. Tetapi menjelang Hari Natal tahun 1818, orgel itu masih belum selesai diperbaiki. Sandiwara Natal terpaksa dipindahkan dari gedung gereja, karena bagian-bagian orgel yang sedang dibetulkan itu masih berserakan di lantai ruang kebaktian.

Tentu tidak ada seorang pun yang mau kehilangan kesempatan melihat sandiwara Natal. Pertunjukan itu akan dipentaskan oleh beberapa pemain kenamaan yang biasa mengadakan tour keliling. Drama Natal sudah menjadi tradisi di desa itu, sama seperti di desa-desa lainnya di negeri Austria.

Untunglah, seorang pemilik kapal yang kaya raya mempunyai rumah besar di desa itu. la mengundang para anggota gereja untuk menyaksikan sandiwara Natal itu di rumahnya.

Tentu saja Josef Mohr, pendeta pembantu dari gereja itu, diundang pula. Pada malam tanggal 23 Desember, ia turut menyaksikan pertunjukan di rumah orang kaya itu.

Sesudah drama Natal itu selesai, Pendeta Mohr tidak terus pulang. la mendaki sebuah bukit kecil yang berdekatan. Dari puncaknya ia memandang jauh ke bawah, dan melihat desa di lembah yang disinari cahaya bintang yang gemerlapan. Sungguh malam itu indah sekali ... malam yang kudus ... malam yang sunyi ....

Hadiah Natal yang Istimewa

Pendeta Mohr baru sampai ke rumah tengah malam. Tetapi ia belum juga siap tidur. Ia menyalakan lilin, lalu mulai menulis sebuah syair tentang apa yang telah dilihatnya dan dirasakannya pada malam itu.

Keesokan harinya pendeta muda itu pergi ke rumah temannya. Franz Gruber, yang juga masih muda, adalah kepala sekolah di desa Arnsdorf, yang terletak tiga kilometer jauhnya dari Oberndorf. la pun merangkap pemimpin musik di gereja yang dilayani oleh Josef Mohr.

Pendeta Mohr lalu memberikan sehelai kertas lipatan kepada kawannya. "Inilah hadiah Natal untukmu," katanya, "sebuah syair yang baru saja saya karang tadi malam."

"Terima kasih, pendeta!" balas Franz Gruber.

Setelah mereka berdua diam sejenak, lalu pendeta muda itu bertanya: "Mungkin engkau dapat membuat lagunya, ya?"

Franz Gruber senang atas saran itu. Segera ia mulai bekerja dengan syair hasil karya Josef Mohr.

Pada sore harinya, tukang orgel itu sudah cukup membersihkan ruang kebaktian sehingga gedung gereja dapat dipakai lagi. Tetapi orgel itu sendiri masih belum dapat digunakan.

Penduduk desa berkumpul untuk merayakan Malam Natal. Dengan keheranan mereka menerima pengumuman, bahwa termasuk pada acara malam itu ada sebuah lagu Natal yang baru.

Franz Gruber sudah membuat aransemen khusus dari lagu ciptaannya--untuk dua suara, diiringi oleh gitar dan koor. Mulailah dia memetik senar pada gitar yang tergantung di pundaknya dengan tali hijau. Lalu ia membawakan suara bas, sedangkan Josef Mohr menyanyikan suara tenor.

Paduan suara gereja bergabung dengan duet itu pada saat-saat yang telah ditentukan. Dan untuk pertama kalinya lagu "Malam Kudus" diperdengarkan.

Bagaimana Tersebar?

Tukang orgel turut hadir dalam kebaktian Malam Natal itu. Ia senang sekali mendengarkan lagu Natal yang baru. Mulailah dia bersenandung, mengingat not-not melodi itu dan mengulang-ulangi kata-katanya.

"Malam Kudus" masih tetap bergema dalam ingatannya pada saat ia selesai memperbaiki orgel di Oberndorf, lalu pulang.

Sekarang masuklah beberapa tokoh baru dalam ceritanya, yaitu: Strasser bersaudara. Keempat gadis Strasser itu adalah anak-anak seorang pembuat sarung tangan. Mereka berbakat luar biasa di bidang musik.

Sewaktu masih kecil, keempat gadis cilik itu suka menyanyi di pasar, sedangkan ayah mereka menjual sarung tangan buatannya. Banyak orang mulai memperhatikan mereka, dan bahkan memberi mereka uang alas nyanyiannya.

Demikian kecilnya permulaan karier keempat gadis Strasser itu, hanya sekedar menyanyi di pasar. Tetapi mereka cepat menjadi tenar. Mereka sempat berkeliling ke banyak kota. Yang terutama mereka tonjolkan ialah lagu-lagu rakyat dari tanah air mereka, yakni dari daerah pegunungan negeri Austria.

Tukang orgel tadi mampir ke rumah keempat Strasser bersaudara. Kepada mereka ia nyanyikan lagu Natal yang baru saja dipelajarinya dari kedua penciptanya di gereja desa itu.

Salah seorang penyanyi wanita itu menuliskan kata-kata dan not-not yang mereka dengarkan dari tukang orgel teman mereka. Dengan berbuat demikian mereka pun dapat menghafalkannya.

Keempat wanita itu senang menambahkan "Malam Kudus" pada acara mereka. Makin lama makin banyak orang yang mendengarnya, sehingga lagu Natal itu mulai dibawa ke negeri-negeri lain pula.

Pernah seorang pemimpin konser terkenal mengundang keempat kakak-beradik dari keluarga Strasser itu untuk menghadiri konsernya. Sebagai atraksi penutup acara yang tak diumumkan sebelumnya, ia pun memanggil keempat wanita itu untuk maju ke depan dan menyanyi. Antara lain, mereka menyanyikan "Malam Kudus," yang oleh mereka diberi judul "Lagu dari Surga."

Raja dan ratu daerah Saksen menghadiri konser itu. Mereka mengundang rombongan penyanyi Strasser itu untuk datang ke istana pada Malam Natal. Tentu saja di sana pun mereka membawakan lagu "Malam Kudus."

Rahasia Asal Usulnya

Lagu Natal yang indah itu umumnya dikenal hanya sebagai "lagu rakyat" saja. Tetapi sang raja ingin tahu siapakah pengarangnya. Pemimpin musik di istana, yaitu komponis besar Felix Mendelssohn (lihatlah pasal 14 dari JILID 3 dalam seri buku ini), juga tidak tahu tentang asal usul lagu Natal itu.

Sang raja mengirim seorang utusan khusus untuk menyelidiki rahasia itu. Utusannya hampir saja pulang dengan tangan kosong. Lalu secara kebetulan ia mendengar seekor burung piaraan yang sedang bersiul. Lagu siulannya tak lain ialah "Malam Kudus"!

Setelah utusan raja tahu bahwa burung itu dulu dibawa oleh seseorang dalam perjalanannya dari daerah pegunungan Austria, maka pergilah dia ke sana serta menyelidiki lebih jauh. Mula-mula ia menyangka bahwa barangkali ia akan menemukan lagu itu dalam naskah-naskah karangan Johann Michael Haydn, seorang komponis bangsa Austria yang terkenal. (Lihatlah pasal 6 dari JILID 3 dalam seri buku ini.) Tetapi sia-sia semua penelitiannya.

Akan tetapi usaha utusan raja itu telah menimbulkan rasa ingin tahu pada penduduk setempat. Seorang pemimpin koor anak-anak merasa bahwa salah seorang muridnya mungkin pernah melatih burung yang pandai mengidungkan "Malam Kudus" itu. Maka ia menyembunyikan diri sambil bersiul meniru suara burung tersebut.

Segera muncullah seorang anak laki-laki, mencari burung piaraannya yang sudah lama lolos. Ternyata anak itu bernama Felix Gruber. Dan lagu yang sudah termasyhur itu, yang dulu diajarkan kepada burung piaraannya, ditulis asli oleh ayahnya sendiri!

Demikianlah seorang bocah dan seekor burung turut mengambil peranan dalam menyatakan kepada dunia luar, siapakah sebenarnya yang mengarang "Lagu Natal dari Desa di Gunung" itu.

Tanda Pengenal Orang Kristen

Setelah satu abad lebih, "Malam Kudus" sesungguhnya menjadi milik bersama seluruh umat manusia. Bahkan lagu Natal itu pernah dipakai secara luar biasa, untuk menciptakan hubungan persahabatan antara orang-orang Kristen dari dua bangsa yang sangat berbeda bahasa dan latar belakangnya.

Pada waktu Natal tahun 1943, seluruh daerah Lautan Pasifika diliputi oleh Perang Dunia Kedua. Beberapa minggu setelah Hari Natal itu, sebuah pesawat terbang Amerika Serikat mengalami kerusakan yang hebat dalam peperangan, sehingga jatuh ke dalam samudra di dekat salah satu pulau Indonesia.

Kelima orang awak kapal itu, yang luka-luka semua, terapung-apung pada pecahan-pecahan kapalnya yang sudah tenggelam. Lalu nampak pada mereka beberapa perahu yang makin mendekat. Orang-orang yang asing bagi mereka mendayung dengan cepatnya dan menolong mereka masuk ke dalam perahu-perahu itu.

Penerbang-penerbang bangsa Amerika itu ragu-ragu dan curiga:

Apakah orang-orang ini masih di bawah kuasa Jepang, musuh mereka? Apakah orang-orang ini belum beradab, dan hanya menarik mereka dari laut untuk memperlakukan mereka secara kejam?

Segala macam kekuatiran terkilas pada pikiran mereka, karena mereka sama sekali tak dapat berbicara dalam bahasa para pendayung berkulit coklat itu. Sebaliknya, orang-orang tersebut sama sekali tak dapat berbicara dalam bahasa Inggris. Rupa-rupanya tiada jalan untuk mengetahui dengan pasti, apakah tentara angkatan udara itu telah jatuh ke dalam tangan kawan atau lawan.

Akhirnya, sesudah semua perahu itu mendarat di pantai, salah seorang penduduk pulau itu mulai menyanyikan "Malam Kudus." Kata-kata dalam bahasa Indonesia itu masih asing bagi para penerbang yang capai dan curiga. Tetapi lagunya segera mereka kenali. Dengan tersenyum tanda perasaan lega, turutlah mereka menyanyi dalam bahasa mereka sendiri. Insaflah mereka sekarang bahwa mereka sudah jatuh ke dalam tangan orang-orang Kristen sesamanya, yang akan melindungi dan merawat mereka.

Lagu Duniawi dan Surgawi

Bagaimana dengan sisa hidup kedua orang yang mula-mula menciptakan lagu "Malam Kudus"?

Josef Mohr hidup dari tahun 1792 sampai tahun 1848. Franz Gruber hidup dari tahun 1787 sampai tahun 1863. Kedua orang itu terus melayani Tuhan bertahun- tahun lamanya dengan berbagai-bagai cara. Namun sejauh pengetahuan orang, mereka tidak pernah menulis apa-apa lagi yang luar biasa. Nama-nama mereka pasti sudah dilupakan oleh dunia sekarang...kecuali satu kejadian, yaitu: Pada masa muda mereka pernah bekerja sama untuk menghasilkan sebuah lagu pilihan.

Gereja kecil di desa Oberndorf itu dilanda banjir pegunungan pada tahun 1899, sehingga hancur luluh. Sebuah gedung gereja yang baru sudah dibangun di sana. Di sebelah dalamnya ada pahatan dari marmer dan perunggu sebagai peringatan lagu "Malam Kudus."

Pahatan itu menggambarkan Pendeta Mohr, seakan-akan ia sedang bersandar di jendela, melihat keluar dari rumah Tuhan di surga. Tangannya ditaruh di telinga. Ia tersenyum sambil mendengar suara anak-anak di bumi yang sedang menyanyikan lagu Natal karangannya. Di belakangnya berdiri Franz Gruber, yang juga tersenyum sambil memetik gitarnya.

Sungguh tepat sekali kiasan dalam pahatan itu! Seolah-olah seisi dunia, juga seisi surga, turut menyanyikan "Lagu Natal dari Desa di Gunung."


dari: http://gema.sabda.org/sejarah_lagu_malam_kudus

Natal yang Mahal


Berapa budget Natal yang kita habiskan di Natal tahun ini? Untuk keperluan kita pribadi? Untuk anggaran perayaan di gereja? Untuk keluarga dan sanak saudara? Jutaan? Puluhan juta? Atau ratusan juta? Pernah saya berpikir, apakah motivasi di balik budget Natal yang besar itu? Apakah untuk kemuliaan Allah? Atau untuk sekadar "prestige" komunal dan "prestige" pribadi?

Tanpa bermaksud menghakimi, kita perlu kembali kepada Natal pertama. Mari kita baca Lukas 2:1-20. Tidak sedikit pun tergambar kesan kemewahan Natal pada saat kelahiran Sang Bayi Kristus. Yang ada alalah kesan kesederhanaan, bahkan kalau jujur kita nilai, Natal pertama adalah Natal yang penuh kemelaratan. "Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan."

Dan itulah makna Natal yang sesungguhnya; Natal adalah inkarnasi - Allah yang Mahatinggi dan Mahakuasa masuk dalam daging manusia dalam kemelaratannya...

Seorang rekan saya di gereja berujar, "Tapi khan Natal adalah perayaan ulang tahun bagi Yesus yang adalah Raja di atas segala raja? Jadi harus special dong..." Saya setuju dengan pendapat itu. Namun pertanyaannya adalah, "apakah special berarti mahal dan mewah?" Justru karena terlalu seringnya kita merayakan Natal dalam kemewahan dan kemahalan, kepekaan kita akan makna "inkarnasi" yang berarti kemuliaan menjadi kesederhanaan (baca: kemelaratan) menjadi tumpul. Natal yang harus dimaknai sebagai hidup merendah dan mau "berada di bawah" (orang Jawa bilang: "andap asor") telah berubah menjadi Natal yang angkuh, penuh glamour, dan tidak ada semangat inkarnasi sama sekali. Kalau ada budget Natal untuk orang-oran melarat, pasti jumlahnya tidak sebanding dengan "make-up" gereja, makan-minum, dan segala fashion kita. Kemewahan dan kemahalan yang melingkupi kita di hari-hari peringatan Natal mungkin telah membentuk kita menjadi hati yang dingin melihat banyak orang di sekeliling kita yang menderita.

Jadi, kita harus kembali merenung, berapa budget Natal kita tahun ini? Sudahkah kita meneladani makna "inkarnasi" Kristus yang rela menjadi yang "terbawah" dalam ketaatan-Nya (bandingkan Filipi 2:5-8). Benar, marilah "menaruh pikiran Kristus" dalam pikiran kita.

Let the incarnation spirit fill our heart in celebrating Christmas this year.

Merry Christmas and Happy New Year.

25 October 2010

Merindukan Hikmat Tuhan


"Berilah sekarang kepadaku hikmat dan pengertian,…" (ayat 10). Hikmat dan pengertian lah yang diminta Salomo, bukan harta bukan kemakmuran, ataupun kejayaan. Namun hikmatlah yang paling diperlukannya dalam memimpin Israel.

Hikmat dan pengertian bersumber dari sikap hidup yang takut akan Tuhan (Amsal 9:10 - Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.)

Namun kehidupan penuh hikmat adalah kehidupan yang penuh determinasi. Seorang yang hidup di dalam hikmat dan pengertian setiap hari adalah seorang yang mampu berdampak positif bagi orang lain. Keputusan-keputusan seorang yang penuh hikmat adalah keputusan yang digerakkan oleh pengertian akan pimpinan Tuhan. Tidak ada kata "salah langkah" dalam kamus kehidupan orang yang berhikmat dan berpengertian.

Dan Sang Kristus juga mengajarkan: "Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa" (Yoh. 15:5).

Rumus yang sangat sederhana: hidup takut dan berada di dalam Dia = hidup penuh hikmat dan pengertian.

23 October 2010


Penebusan Pikiran

"Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;" Mzm. 139:23.

"Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu."Filipi 4:8


Dampak penebusan Kristus atas hidup orang percaya bersifat utuh dan menyeluruh. Seorang yang telah mengalami anugerah di dalam Kristus adalah seorang yang mengalami penebusan di dalam setiap aspek hidupnya. Pikiran yang telah ditebus (redeemed mind) adalah ciri orang yang telah menjadikan Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.

Filipi 4:8 sering disebut orang sebagai Pemikiran Positif ala Kristen. Setelah lahir baru kita masuk ke dalam proses pengudusan yang berjalan seumur hidup. Pengudusan yang dikerjakan Tuhan mencakup seluruh aspek dalam hidup kita, salah satu yang sangat penting yaitu aspek pikiran.

Dalam dosa manusia suka memikirkan apa yang jahat dan tidak benar di mata Tuhan. Paulus mengajak jemaat di Filipi belajar mengontrol atau melatih pikiran untuk hal-hal yang baik. Banyak hal yang kita lakukan dipicu dan dikendalikan oleh apa yang kita pikirkan. Misalnya jika kita berpikir jahat tentang seseorang maka kita akan menyatakannya pula dalam relasi dan sikap kita terhadap dia. Ketika kita berpikir kotor kita didorong untuk melakukan hal yang kotor pula. Sebaliknya, apabila kita memikirkan apa yang benar, yang mulia, yang adil, suci dan seterusnya (ayat 8), kita juga akan melakukan hal-hal benar, mulia, adil, suci. Paulus sendiri mempraktikkan prinsip ini, sehingga ia dapat hidup tanpa didikte oleh keadaan (ayat 10-13).

Pikiran tidak memiliki kekuatan otonom untuk menentukan apa yang hendak dipikirkannya. Pikiran membutuhkan anugerah Tuhan agar dapat berfungsi dengan benar. Pengudusan pikiran adalah hal yang sangat penting. Dengan anugerah Tuhan kita melatih pikiran kita dengan jalan merenungkan firman Tuhan (ayat 8). Hal-hal dalam Fil. 4:8 ini meliputi berbagai macam modus kehidupan. "Yang benar" mencakup aspek rasionalitas; "yang mulia" aspek ibadah; "yang adil" aspek hukum; "kesucian atau kemurnian" mencakup aspek kesalehan; "yang manis" aspek estetika; "sedap didengar" aspek informasi yang kita konsumsi; "kebajikan" berkaitan dengan moral dan etika; "patut dipuji" mencakup konsep nilai. Kekristenan mengajarkan keutuhan dan bukan keterkepingan. Jika hati kita telah dikuduskan oleh Kristus maka seluruh aspek hidup kita pun harus dikuduskan.

Bagaimana kebiasaan berpikirku? Sudahkah kuasa penebusan Kristus memperbaharui setiap hari melalui Firman-Nya? Pikirkan firman-Nya, renungkan kebenaran-Nya...

22 October 2010

Gereja, Natal, dan Pemborosan:
Bah...!





Tahun ini, sekali lagi

aku mengatakan, "bah..!"
pada gereja
pada kumpulan orang
yang mengaku dikasihi Tuhan
namun tidak berbalas dengan kasih

Tahun ini, sekali lagi
aku berteriak, "hah...!"
pada rutinitas natal
yang katanya ingin mengingat lahirnya Tuhan
namun tak kunjung masuk dalam kesederhanaan
dan sekali lagi berlimpah uang
tertumpah
berhambur
terbang
sia-sia
tanpa makna

Tahun ini, sekali lagi
aku ingin mengeluh, "huh!"
pada si kristen yang kaya
yang tak tahu
uang untuk apa
dikiranya Tuhan bisa senang
dengan kemewahan
yang mampu ia beli dan tawarkan
katanya sejuta
katanya berpuluh juta
katanya seratus juta
katanya semilyar...!
rencana dana natal tahun ini.

padahal Tuhan sudah muak
dengan ceremony dan perembahan
sedangkan keadilan, belaskasih,
dan kerendahan hati
enggan tertanam
di taman hati

Bah! Hah! Huh!
Natal tahun ini akan seperti kemarin.
Kristen tertawa dalam pesta
sedang si miskin
yang katanya orang hina
sahabat Kristus
akan tetap lapar
telanjang
dalam penjara
sakit
dan menderita.

Bah! Hah! Huh!

My Morning Waker


Akhir-akhir ini ritme bangun tidurku mengalami "keajaiban"... Hampir setiap malam aku men-set alarm pada HP ku agar aku bisa bangun sedini mungkin, dan melakukan hal-hal yang berguna. Namun, entah mengapa tangan ini sering refleks mematikan alarm tanpa sadar aku harus bangun.

Nah, justru karena aku selalu gagal bangun pagi dengan bantuan alarm HP-ku, beberapa pagi ini Tuhan berikan aku "tangan mungil" yang selalu menarik-narik tanganku, "Yah, banun, Yah... Yah, banun" begitu suara kecil namun keras itu berusaha membangunkanku. Seolah yakin dengan kekuatannya yang masih kecil itu, "tangan mungil" yang ternyata tangan Jonathan, anakku yang kecil itu berusaha menarik badanku yang mungkin 6-7 kali lipat berat badannya. Maka, capek atau tidak capek, ngantuk atau tidak ngantuk, aku harus bangun... Itulah Jonathan, "my real waker." Terima kasih, Tuhan. Engkau menghadirkan banyak keajaiban dalam hidupku.

21 October 2010

Kesombongan:

Mengandalkan Diri dan Mengesampingkan Tuhan

2 Samuel 24:1-17



Apa yang salah dengan sensus dan melakukan kalkulasi kekuatan militer? Bukankah seorang pemimpin yang baik harus mampu menghitung kekuatan diri dan kekuatan lawan agar tidak mati konyol?

Daud melakukannya, di saat semua kemenangan gilang gemilang telah diraihnya. Dan itulah yang dipandang jahat di mata Tuhan, meski "hasutan" itu datang dari Allah sendiri (melalui Iblis - 1 Taw. 21:1). Seharusnya Daud sudah sangat mengenal Allah dengan begitu dekat, sehingga prinsip utama dari kepemimpinannya tidak boleh ia lupakan: bergantung penuh kepada kekuatan Allah dan bukan pada kekuatan militer! Kepemimpinan Daud atas Israel adalah kepemimpinan perwakilan Allah. Daud adalah "raja wakil" yang memimpin Israel dengan kekuatan Raja Israel yang sejati, yaitu Allah Yahweh.

Dan keputusan sensus militer inipun mendatangkan murka dan hukuman Allah atas Israel.

Apa yang bisa dipelajari dari kisah ini?

  1. Apa yang seringkali kita anggap sebagai "suara Tuhan" harus diuji oleh prinsip-prinsip Firman Tuhan yang mendasar, sehingga kita tidak tersesat dengan apa yang nampak sebagai "suara Tuhan" namun bukan menjadi Kehendak Tuhan.
  2. Menghitung kekuatan militer menunjukkan arogansi dan kesombongan Daud yang mengira kemenangan-demi-kemenangan yang diraih adalah karena kekuatan militer. Dia lupa bahwa Allah-lah yang berperang bagi Israel. Jadi, jangan pernah andalkan diri sendiri. Jika Allah benar-benar Kekuatan dan Gunung Batu kita (bukan slogan rohani semata), jika Dia adalah Pahlawan kita, siapa yang kita andalkan di dalam perjuangan-perjuangan hidup kita? Kuasa kemenangan-Nya di dalam Kristus ataukah kekuatan kita yang arogan (namun rapuh)?
  3. Pertobatan Daud adalah teladan yang sangat baik: pertobatan terjadi sebelum teguran nabi Tuhan (ay. 11), dan ia rela dan taat dengan risiko hukuman Allah. Dan ini kemudian menjadi suatu refleksi doa dalam kehidupan Daud: "Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.

6:08 AM

20 October 2010

Antara Tuhan, Kekayaan dan Kemiskinan


Mengikuti sebuah acara di Jakarta medio Oktober yang lalu, membuatku termenung sejenak. Bersama rekan-rekan sejawat, aku mengikuti sebuah momen yang mencoba memikirkan kembali langkah-langkah transformatif bagi masalah bangsa; salah satunya adalah masalah kemiskinan. Dengan menggerakkan sebanyak mungkin komponen kekristenan dalam jejaring, acara "gede" mencoba menggagas langkah-langkah praktis dan implementatif untuk merubah wajah miskin negeri ini.
Namun, sebuah ironi segera tergambar ketika memasuki gedung megah nan mewah yang digunakan untuk acara mahal ini. Ruang super sejuk, ditambah peralatan gedung yang super canggih, segera membuat aku "terbius" dengan kenyamanan. Dan waktu yang merangkak, tanpa sadar tidak membuatku gerah dan resah. Pagi berganti siang, siang berganti malam, semua tetap sama di dalam gedung yang serba super ini: kenyamanan!
Bagiku, agak sulit memang memikirkan dan meresapi perjuangan bagi kemiskinan yang radikal, dengan suasana yang meninabobokan tersebut. Gereja yang berbalut jubah mewah nan kemilau, nampaknya agak sulit untuk masuk ke dalam gang-gang yang becek dan penuh comberan... Bukankah teladan Kristus sudah begitu jelas: inkarnasi - menjadi satu daging dengan orang yang kita layani?
Secara teologis aku berpikir, antara Tuhan - Kekayaan - dan Kemiskinan... Jelas kemiskinan adalah buah dosa, buah ketidakadilan, buah dari perilaku korup. Kemiskinan adalah musuh Allah... Namun jelas kekayaan dan kemewahan yang menyolok di tengah gubuk-gubuk kemiskinan negeri ini bukanlah design Allah untuk "umat tebusan-Nya." Kembali tergambar uraian Sang Guru: "Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum..."
Yah, semoga kami semua selalu ingat bahwa yang penting bukanlah apa yang kami pikirkan dan diskusikan, tetapi apa yang kami perjuangkan dalam tindak nyata untuk "menghapus potret kemiskinan" negeri ini - paling tidak, potret itu tidak akan terlalu memilukan...
PUISI DOA DI JAKARTA – WS RENDRA

Tuhan yang Maha Esa,
alangkah tegangnya
melihat hidup yang tergadai,
fikiran yang dipabrikkan,
dan masyarakat yang diternakkan.

Malam rebah dalam udara yang kotor.
Di manakah harapan akan dikaitkan
bila tipu daya telah menjadi seni kehidupan?
Dendam diasah di kolong yang basah
siap untuk terseret dalam gelombang edan.
Perkelahian dalam hidup sehari-hari
telah menjadi kewajaran.
Pepatah dan petitih
tak akan menyelesaikan masalah
bagi hidup yang bosan,
terpenjara, tanpa jendela.

Tuhan yang Maha Faham,
alangkah tak masuk akal
jarak selangkah
yang bererti empat puluh tahun gaji seorang buruh,
yang memisahkan
sebuah halaman bertaman tanaman hias
dengan rumah-rumah tanpa sumur dan W.C.
Hati manusia telah menjadi acuh,
panser yang angkuh,
traktor yang dendam.

Tuhan yang Maha Rahman,
ketika air mata menjadi gombal,
dan kata-kata menjadi lumpur becek,
aku menoleh ke utara dan ke selatan -
di manakah Kamu?
Di manakah tabungan keramik untuk wang logam?
Di manakah catatan belanja harian?
Di manakah peradaban?
Ya, Tuhan yang Maha Hakim,
harapan kosong, optimisme hampa.
Hanya akal sihat dan daya hidup
menjadi peganganku yang nyata.

...

16 October 2010

Menebus Generasi Pop


Benar-benar sudah cair generasi ini... Enggan berkomitmen, yang penting having fun, dan asyik dengan dirinya sendiri... Ke sana ok, ke sini ok, yang penting rame-rame... Dan ketika diajak untuk diam sejenak, menanti Tuhan, mereka berkata, "Mana sempat...? Hhmm, mana sempat?"
Maka ketika aku berdiri di sini, memandang generasi ini, aku menghela nafas, "Yah, generasi telah berubah... Mungkin aku terlambat mengejar perubahan ini. Tuhan, limpahkan hikmatmu untuk aku dapat menjangkau mereka, dan menolong mereka ke dalam rengkuhan-Mu.
Bagi "generasi pop", otoritas bukanlah masalah usia. Otoritas bukan masalah jabatan. Otoritas yang akan benar-benar diterima oleh generasi ini adalah otoritas ilahi. Otoritas yang datangnya dari Allah Roh Kudus, yang menyentuh hati, serta menggerakkannya untuk bertobat. Karena itu, kahadiran Roh Kudus menjadi mutlak diperlukan bagi para pelayan yang hendak menjangkau generasi ini.